Tradisi Selametan Masyarakat Jawa

0 227

Selamatan atau selametan adalah sebuah tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Slametan berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti selamat, bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dari insiden-insiden yang tidak dikehendaki. Sementara itu, Clifford Geertz slamet berarti ora ana apa-apa (tidak ada apa-apa)

Upacara selamatan merupakan salah satu tradisi yang dianggap dapat menjauhkan diri dari mala petaka. Slametan adalah konsep universal yang di setiap tempat pasti ada dengan nama yang berbeda. Hal ini karena kesadaran akan diri yang ³lemah´ di hadapan kekuatan-kekuatan di luar diri manusia. Selamatan adalah suatu bentuk acara syukuran dengan mengundang beberapa kerabat atau tetangga . Secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk.

Praktik upacara selamatan sebagaimana yang diungkapkan oleh Hildred Geertz tersebut pada umumnya dianut oleh kaum Islam Abangan, sedangkan bagi kaum Islam Putihan (santri) praktik selamatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali dengan membuang unsur-unsur syirik yang menyolok seperti sebutan dewa-dewa dan roh-roh. Karena itu bagi kaum santri, selamatan adalah upacara doa bersama dengan seorang pemimpin atau modin yang kemudian diteruskan dengan makan-makan bersama sekadarnya dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang maha Kuasa.

Slametan dilakukan untuk merayakan hampir semua kejadian, termasuk kelahiran, kematian,pernikahan, pindah rumah, dan sebagainya. Geertz mengkategorikan mereka ke dalam empat jenis utama:

  • Yang berkaitan dengan kehidupan: kelahiran, khitanan, pernikahan, dan kematian
  • Yang terkait dengan peristiwa perayaan Islam
  • Bersih desa (“pembersihan desa”), berkaitan dengan integrasi sosial desa.
  • Kejadian yang tidak biasa misalnya berangkat untuk perjalanan panjang, pindah rumah, mengubah nama, kesembuhan penyakit, kesembuhan akan pengaruh sihir, dan sebagainya.

Perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan pengaruh luar/asing selalu membawa perubahan termasuk dalam upacara tradisional/selamatan. Adapun selamatan yang masih dilakukan yaitu:

  1. Upacara tingkeban atau mitoni. Pada acara tingkeban atau mitoni biasanya diadakan selamatan untuk usia kandungan tujuh bulan. Tujuan mitoni atau tingkeban agar ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu
    1. Babaran. Dekat menjelang kelahiran, beberapa orang mengadakan slamatan kecil dengan anggota keluarga saja, yang hidangannya terdiri dari sepiring jenang dengan sebuah pisang yang telah dikupas ditengahnya untuk melambangkan kelahiran yang lancar.
    2.  Sepasaran. Lima hari sesudah selamatan pertama untuk bayi diselenggarakan, sebuah selamatan yang agak lebih besar, pasaran dan pemberian nama si bayi.
    3. Selapan. Saat bayi berumur 35 hari, diadakan upacara selapanan. Acara ini biasanya juga diadakan acara selamatan. Pada upacara ini, untuk pertama kali bayi dipotong rambutnya. Biasanya yang memotong adalah nenek si bayi.
    4. Tedhak siten. Slametan pada acara tedhak siten ini dilakukan saat bayi berumur 6 lapan atau pitung weton. Sarana pada slametan ini adalah beras kuning yang dicampur dengan uang anggris ‘ringgit’, wukon ‘uang setengan rupiyah, talen salaka ‘uang 25 sen yang terbuat dari logam berwarna putih’, padi satu gengam, dan kapas satu dhompol.
    5. Sunat. Upacara selamatan pada acara sunatan biasanya dilakukan saat anak laki-laki berusia 16 tahun. Sunat merupakan kewajiban bagi para pemeluk agama Islam.
    6. Weton atau wetonan adalah peringatan hari lahir setiap 35-tiga puluh lima hari sekali. Pada waktu-waktu tertentu, orang melakukan peringatan weton dengan cara mengadakan selamatan dengan mengundang beberapa kerabat atau kenalan baiknya. Pada saat seperti itu, biasanya sesaji lebih komplit, termasuk nasi tumpeng dan lauk pauknya dan lain sebagainya. Sesudah diadakan doa bersama, dilanjutkan dengan menyantap hidangan.
    7. Perkawinan. Di dalam islaman, selamatan perkawinan disebut juga midadareni, diselenggarakan pada malam hari menjelang upacara yang sebenarnaya.
    8. Kematian. Selamatan ini untuk menyelamatkan jiwa orang yang sudah meninggal. Perjalanan selamatan ini mendapat pengaruh ajaran Hindu dan Budha. Akan tetapi, yang diganti itu hanyalah mantranya/doanya. Prinsip dari selamatan itu sendiri masih tetap. Dan setelah Islam masuk, berbagai tata cara dan mantranya diubah disesuaikan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Sedangkan upacara selamatan yang sering dilakukan berkaitan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat Jawa antara lain:

  • Nyadran: yaitu upacara yang diadakan pada bulan Ruwah (bulan menjelang puasa) yang dilakukan secara bergotong royong membersihkan makam keluarganya dan bersaji.
  • Memetri desa: yaitu upacara yang diadakan di desa-desa setelah panen padi, biasanya dipertunjukkan wayang kulit dengan cerita Dewi Sri.
  • Suran: yaitu upacara yang diadakan oleh masyarakat Jawa pada malam 1 syuro (tahun barun hijrah) yang diselenggarakan dengan sajian wayang kulit semalam suntuk dan diusahakan pada malam itu tidak tidur.
  • Sedekah laut: yaitu upacara yang dilakukan oleh masyarakat nelayan pada setiap bulan Suro untuk memberi persembahan kepada penguasa laut Selatan (Nyai Roro Kidul) yang berupa hasil ternak, pertanian, dan perlengkapan lain yang diletakkan dalam sebuah kapal hias.
Source Pranata Upacara Selamatan Masyarakat Jawa Selamatan
Comments
Loading...