Tradisi Saparan Warga Lereng Merbabu

0 167

Tradisi Saparan Warga Lereng Merbabu

Warga lereng Gunung Merbabu, Dusun Sanden, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, menggelar tradisi saparan. Tradisi mengarak nasi tempeng dan ingkung itu, merupakan tradisi yang dilakukan sejak nenek moyang dengan cara dikirab keliling kampung dengan jalan kaki. Tradisi Saparan digelar dua hari. 

Prosesi arak tumpeng dan ingkung, dipimpin seorang seniman Agus Merapi, dengan membawa dupa sambil membaca, kemudian ada gunungan yang terbuat dari sayur-sayuran yang merupakan hasil panen warga. Kemudian di belakangnya ada barisan yang menggunakan pakaian jawa, disusul barisan ibu-ibu yang membawa nadi tumpeng dan ingkung.

Arak-arakan warga sambil membawa tumpeng itu, terus mengular melewat jalan utama yang hubungkan Magelang – Boyolali, akibatnya arus lalu lintas macet. Setelah sampai perbatasan wilayah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, warga kembali lagi menuju kampung yang berada di kaki Gunung Merbabu. 

Usai diarak, tumpeng dan inkung ysng jumlahnya sekitar 300 itu, di taruh dipertigaan jalan desa untuk kembali di doakan, dan selesai doa nasi tumpeng dan ingkung dimakan bersama-sama. Sedangkan untuk gunungan, direbutkan oleh warga, terutama anak-anak.

Sebelum prosesi Saparan dilakukan, terlebih dahulu nasi tumpeng dan ingkung, di taruh di atas panggung, kemudian didoakan oleh sesepuh kampung. Usai didoakan, nasi dan ingkung diambil kembali oleh warga untuk diarak keliling kampung dengan dengan jalan kaki, sambil menyunggi tumpeng dan ingkung di atas kepala.

Kepala Dusun Sanden, Desa Wonolelo, Kecamstan Sawangan, Padi (33) mengatakan, tradisi Saparan ini digelar selama dua hari. Ada sekitar 300 ingkung, nasi tumpeng dan jajan pasar, merupakan tradisi warga yang sudah dilakukan sejak nenek moyang, usai kirab malamnya warga menggelar pertunjukan kesenian tradisional, yakni tayub yang mendatangkan ledek dari Wonosobo. 

Tradisi Saparan ini, sebagai rasa syukur warga, atas melimpahnya hasil panen sayur-sayuran sebagai penghasilan warga. Menurut Kadus Saden, Padi “Ini salah satu rasa syukur warga atas melimpahnya hasil tanaman sayuran. Karena setiap hari, sekitar 8 ton sayuran hasil panen warga, baik sayur wortel, kobis, tomat, cabe dan sayuran lainnya”. 

Seniman yang juga pelaku ritual, Agus Merapi menambahkan, ritual Safaran ini juga memperingati Erupsi Gunung Merapi pada November 2010 silam, diharapkan dengan kirap ini, selain menjaga tradisi juga mengingatkan warga pada alam, karena alam telah memberikan manfaat bagi warga. “Melalui ritual ini, kita mengingatkan warga agar tetap menjaga dan melestarikan alam”. 

Source Tradisi Saparan Warga Lereng Merbabu wawasan.co
Comments
Loading...