Tradisi Sadranan Cepogo Di Bulan Ruwah

0 186

Tradisi Sadranan Cepogo Di Bulan Ruwah

Menjelang bulan puasa, masyarakat Jawa mengenal tradisi turun temurun yang biasa dikenal dengan istilah SadrananSadranan adalah tradisi yang dilakukan menjelang bulan puasa atau di bulan Ruwah (penanggalan Jawa). Tradisi ini berupa upacara bersih makam menjelang puasa atau ziarah menjelang puasa. Di antara mereka yang menjalankan tradisi ini, ada salah satu lokasi yang secara berbeda menjalankan tradisi ini yaitu oleh warga Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali.

Sadranan Cepogo atau tradisi Sadranan Cepogo adalah salah satu tradisi di Kabupaten Boyolali yang dikenal luas oleh masyarakat. Tradisi yang sudah dilakukan oleh warga secara turun temurun ini konon sudah berjalan sejak tahun 1944. Lalu apa yang membedakan tradisi Sadranan di Cepogo dengan daerah lain?

Seperti halnya di kawasan lain, Sadranan biasa digelar dari tanggal 15 bulan Ruwahhingga menjelang dimulainya puasa pada tanggal 1 bulan Pasa (Jawa). Beberapa wilayah di Jawa menjalankan tradisi ini secara individu atau kelompok di antara waktu 15 hari itu.

Hal berbeda dapat ditemukan pada tradisi Sadranan di Desa Sukobumi, Cepogo, dimana tradisi itu digelar serentak dan diikuti oleh ratusan warga. Mereka yang datang bahkan tidak hanya dari Cepogo saja tetapi juga mereka yang berasal dari luar daerah namun memiliki leluhur yang dikuburkan di Cepogo, makam Gunung dan Puroloyo.

Ratusan warga dari berbagai daerah biasa beramai-ramai mengunjungi desa ini ketika waktu Sadranan tiba. Sadranan di Desa Sukobumi biasa digelar pada tanggal 16 bulan Ruwah mulai dari pagi buta.

Prosesi Sadranan Cepogo dimulai sejak jam 5 pagi dimana warga mendatangi makam Puroloyo atau pemakaman Gunung dengan membawa berbagai peralatan kebersihan seperti sapu hingga sabit. Di sana mereka akan membersihkan makam dengan mencabuti rumput, membabat ilalang, membersihkan lumut, atau menyapu makam para leluhur mereka.

Setelah selesai dengan prosesi awal ini, acara akan dilanjutkan pada jam setengah 9 pagi. Pada jam itu, warga kembali mendatangi makam namun kali ini mereka membawa bekal yang berbeda. Ratusan warga yang datang membawa ratusan “tenong”, wadah makanan berbentuk bulat dari anyaman bambu, berisi makanan menuju pemakaman.

Ratusan tenong yang berisi makanan ini nantinya akan dibariskan di makam untuk didoakan kemudian dibagikan pada seluruh warga yang hadir. Prosesi tukar makanan dalam ratusan tenong inilah yang membedakan tradisi Sadranan Cepogo dengan sadranan di wilayah lain di Jawa.

Biasanya, dalam setiap penyelenggaraan terdapat puluhan hingga ratusan tenong yang dibawa ke makam. Isi makanan dalam tenong bisa terdiri dari berbagai jenis makanan seperti jajanan pasar, kue atau roti, atau buah. Namun sebelum tukar makanan dimulai, biasanya mereka yang hadir akan mendengarkan ceramah dan doa bersama-sama terlebih dahulu.

Setelah selesai dengan seluruh prosesi Sadranan di pemakaman, beberapa warga biasanya akan bersilaturahmi ke rumah warga di wilayah itu. Mereka yang tinggal di daerah itu pun juga telah bersiap menyambut tamu-tamu yang akan hadir setelah prosesi tradisi Sadranan di bulan Ruwah itu selesai.

Waktu dan lokasi penyelenggaraan Sadranan

Tradisi Sadranan di makam Purolayu dan Nggunung, Sukobumi, Cepogo, rutin digelar setiap tanggal 16 bulan Ruwah. Selain di dua makam ini, tradisi sadranan dengan khas cara Cepogo sebenarnya juga berlangsung di beberapa makam di kawasan itu. Hanya saja waktu pelaksanaannya berbeda-beda.

Dusun Sukobumi terletak persis di depan Pasar Cepogo. Terdapat sebuah gang dengan gapura bertuliskan “Sukobumi” di depan pasar. Dari gang itu, masuk luruh ke barat dan makam Puroloyo dapat ditemukan setelah anda berbelok di gang ketiga di kanan jalan. Sementara makam Nggunung berada di sebelah utara makam Puroloyo dan hanya berjarak beberapa ratus meter saja.

Source http://chic-id.com http://chic-id.com/tradisi-sadranan-cepogo-di-bulan-ruwah/
Comments
Loading...