Tradisi Ruwat Petirtan Jolotundo Mojokerto

0 82

Tradisi Ruwat Petirtan Jolotundo Mojokerto

Ruwat merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Jawa yang dilakukan sejak jaman dahulu kala, turun temurun hingga sekarang. Ruwat, bagi masyarakat Jawa bukan sekedar budaya, namun sudah masuk dalam Ritual & Religi. Ruwat pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ruwat Perorangan dan Ruwat Kelompok atau Komunitas. Namun kedua bentuk ruwat itu pada hakekatnya tetap sama, maksud dan tujuannya sama, yang membedakan hanya pada obyek yang diruwat.

Sejarah, Latar Belakang Dan Motivasi Ruwat Sumber Patirtan Jolotundo dilihat dari kualitas air dan kebutuhan manusia, air dibedakan menjadi tiga, air minum, air besih, dan air irigasi. Bagi warga masyarakat Dusun Biting Seloliman, air dari sumber Jolotundo menyangkut ketiga-tiganya. Tentang air Jolotundo, pengertiannya tidak hanya air yang ada di Patirtan Jolotundo, tapi menyangkut juga air dari sumber-sumber yang ada di bawah Jolotundo, karena sumber-sumber tersebut merupakan limpahan dari Jolotundo.

Karena Ruwat Sumber Jolotundo ini menyangkut kepentingan pertanian perkebunan (tegalan) dan peternakan, selain kepentingan minum berikut kepentingan rumah tangga yang lain, maka Ruwat Sumber Jolotundo bisa diartikan sebagai Ruwat Pertanian dan sangat penting artinya bagi masyarakat, khususnya Dusun Biting Seloliman. Ruwat Sumber Jolotundo bagi masyarakat Dusun Biting, menyangkut besar kecilnya debit air yang keluar dari sumber-sumber Jolotundo, menyangkut lancar dan tidak lancarnya, menyangkut keluar dan mampetnya sumber. Lengah atau absen dalam ruwat, akan berakibat mengecilnya debit air yang keluar, bahkan bisa mampet.

Penyelenggaran Ruwat Sumber Jolotundo, adalah demi (dengan harapan) lancar dan melimpahnya debit air yang keluar di seluruh sumber-sumber tersebut. Hal semacam ini sangat diyakini kepada bukti-bukti lewat N I T E N I. Oleh karena itu warga masyarakat Dusun Biting, tidak berani absen dalam pelaksanaan ruwat sumber ini.

Warga Dusun Biting Seloliman dengan antusias selalu aktif dan mengambil bagian dalam pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo, sejak puluhan tahun yang lalu. Kemudian sejak 2008 warga berinisiatif meningkatkan acara ruwat sumber ini dari lingkup dusun ditingkankan menjadi lingkup desa, dari kegiatan dusun menjadi kegiatan desa. Dan dalam perjalannya penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo terus dibenahi, direnovasi dan kian disempurnakan sesuai kebutuhan dan tuntutan jaman.

Waktu pelaksanaan Ruwat Sumber Jolotundo oleh warga masyarakat Dusun Biting Seloliman dilaksanakan pada bulan Suro, jatuh pada pasaran Legi sepuluh hari petama (sebelum tanggal 10 jawa). Bulan Suro adalah bulan pertama jawa tahun (faham) aboge dan tahunnya berdasarkan tahun saka (tahun jawa ).

Sedangkan pasaran Legi didasarkan kepada pitungan jawa tentang kejayaan, bahwa Jolotundo berada di sebelahan timur Dusun Biting. Warga masyarakat Dusun Biting untuk ke Jolotundo arahnya ke timur sesuai dengan pitungan jawa, bahwa pada pasaran Legi kejayaan ada di arah timur. Pitungan semacam itu bagi masyarakat jawa selalu diperhitungkan sejak jaman kuno hingga sekarang.

Adapun mengambil sepuluh hari pertama (sebelum tanggal 10), diperoleh dari hasil pengamatan yang diyakini bahwa bahwa mulai tanggal satu sampai dengan supuluh adalah saat-saat berkumpulnya enerji (kekuatan) di Jolotundo. Penyelenggaraan Ruwat Sumber Jolotundo, kian tahun kian dibenahi dan kian disempurnakan dengan tidak merubah pakem, tetap berpegang kepada tradisi dan memegang teguh esensi ideologis.

Setelah tahun 2010 gagasan ini didukung Kepala Dusun Biting, Kepala Desa Seloliman, Karang Taruna dan didukung penguyuban kesenian Dusun Biting. Kegiataan ruwat memperkokohkan posisi ruwat dan lebih semarak gebyar pelaksanannya dan melibatkan masyarakat luar Dusun Biting. 

Source Tradisi Ruwat Petirtan Jolotundo Mojokerto Timur Jawa
Comments
Loading...