Tradisi Rampongan Macan

0 34

Tradisi “Rampogan Macan”, tradisi ini diselenggarakan untuk menerima tamu agung terutama pejabat Belanda atau Gubernur Jenderal. Acara “Rampogan Macan” ini diselenggarakan atas perintah SISKS Pakubuwana X, hewan-hewan yang dipergunakan dalam acara ini biasanya hasil buruan yang kemudian dipelihara hingga pertunjukan tiba.

Salah satu hewan yang wajib dipergunakan, yakni macan atau harimau dan diadu dengan banteng. Hingga saat ini, lokasi kandang macan yang dipelihara berada di sudut alun-alun utara tepatnya di rumah penjaga SD N Kauman, timur polsek pasar Kliwon.

Didukung dengan adanya bekas cakaran harimau diatas sebuah batu menunjukan bahwa, harimau tersebut memang sengaja dipelihara sebelum diadu. Acara ini dilaksanakan pagi hari, dan puncak dari pertarungan antara harimau dan banteng pada siang hari. Para pembesar menyaksikan pertunjukan dari sebuah panggung yang dinamakan pagelaran, dan Sunan duduk berdampingan dengan Gubernur Jenderal. Sedangkan masyarakat pribumi, dengan rela berdesakan diluar arena demi menonton pertunjukan tersebut.

Rampogan Macan di Alun-alun Kraton Surakarta, 1865 Tampak Sunan bersama Gubernur Jendral duduk bersama di Pagelaran. Harimau dan banteng yang terlibat dalam tradisi ini biasanya mengalami nasib yang sama yakni menemui kematian. Banteng yang dikalahkan harimau ataupun sebaliknya harimau yang dikalahkan oleh banteng, hingga terdapat salah satu hewan yang menang nantinya akan dibunuh ramai-ramai oleh para abdi dalem kasunanan.

Tradisi “Rampogan Macan” ini sebenarnya memiliki makna dan simbol yang cukup besar, yakni gambaran tentang hegemoni kekuasaan raja Mataram, macan yang mati dengan luka parah merupakan penggambaran tokoh pewayangan Abimanyu saat menjadi Senapati saat perang Baratayuda.

Selain itu, pagelaran ini juga sebuah simbol keagungan dari kekuasaan Sultan yang memiliki batasan dengan rakyat. Disisi lain, macan merupakan simbol kekuasaan kolonial dan banteng adalah pribumi, atas tunduknya kekuasaan pribumi terhadap penjajah sehingga rampogan macan ini merupakan simbol pertempuran antara penduduk pribumi melawan penajah.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/ibnurustamaji/5af42e6dbde5754f0108f882/napak-tilas-kedung-lumbu-cikal-bakal-keraton-kasunanan-surakarta-hadiningrat

Leave A Reply

Your email address will not be published.