Tradisi Petekan Suku Tengger, Sebuah Kearifan Perangi Seks Bebas

0 63

Tradisi Petekan Suku Tengger, Sebuah Kearifan Perangi Seks Bebas

Petekan digelar di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Di desa itulah banyak Suku Tengger di wilayah Malang bermukim. Di desa tertinggi di Pulau Jawa yang berlokasi di lereng barat daya pegunungan Tengger itu tinggal sekitar 1.800 warga Suku Tengger. Mereka tersebar di dua dusun, yakni Ngadas dan Jarak Ijo.

Dalam struktur masyarakat suku ini, ditunjuk satu orang sebagai dukun adat. Dia dibantu dua orang sebagai Wong Sepuh, yang tugasnya berkaitan dengan kematian, dan Pak Legen, yang bertugas dalam hal perkawinan warga. Dukun adat juga memiliki tugas untuk menghelat tradisi petekan. Seorang dukun adat juga dibantu oleh dukun bayi yang juga terlibat dalam upacara tersebut.

Tradisi petekan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Biasanya, diawali dengan pengumuman oleh Wong Sepuh perihal akan diadakan upacara tradisi petekan. Lalu, Wong Sepuh menginfokan kepada Pak Legen yang kemudian diteruskan kepada si dukun bayi.

Upacara turun-temurun ini biasanya dilangsungkan di tempat tertutup, tepatnya di rumah Pak Legen di waktu malam hari, pukul 19.00 – 21.00. Upacara ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari para perempuan yang sudah beranjak dewasa, namun belum menikah, dan para janda yang masih dalam usia subur.

Sebutan Petekan ini berasal dari kata ‘dipetek’ (Jawa: ditekan). Tak heran jika dalam upacara tersebut, si dukun bayi meraba dan menekan perut para perempuan yang ikut serta. Bagian yang ditekan dan diraba adalah bagian perut di antara pusar dan kemaluan. Ternyata, dalam dunia medis, hal ini dikenal dengan sebutan teknik palpasi. Teknik ini biasa dilakukan para bidan untuk mendeteksi keberadaan janin di dalam perut.

Dengan kemampuan yang dimiliki, si dukun bayi yang melakukan petekan, bakal mendeteksi apakah perempuan yang diperiksa sedang hamil atau tidak. Malah, kadang dia bisa mengetahui apakah si peserta yang diperiksa itu masih perawan atau sudah tidak perawan.

Tujuan tradisi petekan ini sebagai bentuk pencegahan agar tidak terjadi hamil di luar nikah. Dukun bayi yang melakukan petekan biasanya mampu mendeteksi kehamilan pada usia 1,5 – 2 bulan. Jika dalam upacara itu diketahui ada kasus peserta yang hamil di luar nikah, maka hukum adat akan ditegakkan.

Jika perempuan yang hamil di luar nikah berstatus gadis, pria yang telah menghamilinya akan dicari. Jika pria yang menghamili berstatus belum menikah atau belum berkeluarga, maka pasangan itu akan didenda harus membayar masing-masing 50 sak semen kepada desa, tak peduli dia berasal dari keluarga berada atau pun keluarga tak punya. Keduanya akan langsung dinikahkan secara adat maupun secara agama setelah urusan denda diselesaikan.

Perempuan yang hamil di luar nikah dengan pria yang sudah berkeluarga bakal mendapatkan hukuman yang lebih berat. Dalam kasus tersebut, si pria akan didenda 100 sak semen, sedangkan si perempuan harus membayar 50 sak semen. Sebelum dinikahkan, pasangan ini akan dipermalukan di muka warga. Keduanya juga harus menyapu jalanan desa hingga bersih, mulai ujung atas hingga ujung bawah jalan yang telah ditentukan pengurus adat. Selain itu, pihak perempuan dan keluarganya akan mendapat sanksi sosial, yakni akan dikucilkan oleh warga. Pasangan itu kemudian dinikahkan, tapi hanya secara adat, tidak secara agama. Usia pernikahan mereka pun hanya sampai si jabang bayi dilahirkan. Selama menjadi suami adat, si pria pun dilarang mendekati istrinya, apalagi sampai berhubungan intim. Setelah itu, si laki-laki wajib menceraikannya, karena dalam masyarakat Tengger tak dikenal istilah poligami.

Hukum adat petekan ini ternyata sangat efektif untuk mengurangi angka hamil di luar nikah, sekaligus menciptakan efek jera bagi pelakunya. Tradisi ini juga terbukti mencegah atau mengurangi angka pemerkosaan atau perbuatan asusila lainnya di lingkungan masyarakat Tengger. Dengan adanya hukum adat ini, wanita Ngadas pun jadi sangat hati-hati dalam bergaul dengan teman pria.

Tradisi petekan ini menurut literatur sudah ada sejak tahun 1772 dan terjaga eksistensinya dengan baik di kalangan warga Tengger hingga kini. Bagi masyarakat Tengger, seks adalah sesuatu yang sangat sakral. Tak heran jika tradisi petekan ini dibuat dalam rangka untuk menjaga kesakralan tersebut secara turun-temurun.

Konon, bencana alam atau wabah penyakit akan datang menimpa mereka jika warga masyarakat Tengger tidak bisa menjaga kesakralan seks. Jika di antara mereka ada yang hamil di luar nikah atau ada yang berhubungan intim di luar nikah, dan hal itu tidak terdeteksi lewat tradisi petekan, maka pertanda alam yang ganjil atau wabah penyakit akan muncul. Hal tersebut dituturkan oleh tokoh masyarakat atau sesepuh kampung.

Pertanda alam ganjil tersebut seperti ayam berkokok sebelum waktunya, ada jejak kaki harimau di jalan desa, dan warga diserang penyakit secara masal. Pernah, suatu saat banyak wanita Tengger yang mendadak muntah-muntah, perutnya mual, padahal mereka semua tidak sedang hamil.

Jika kondisi seperti itu terjadi, maka atas perintah dukun adat, Pak Legen akan langsung menggelar upacara petekan, meskipun belum jadwalnya digelar. Biasanya, begitu digelar petekan, ternyata memang ada wanita Tengger yang hamil di luar nikah. Begitu yang bersangkutan diberi sanksi, dan melunasi denda, gangguan alam dan wabah penyakit yang sebelumnya menyerang akan hilang dengan sendirinya. Percaya tidak percaya, demikianlah adanya tradisi tersebut.

Source Tradisi Petekan Suku Tengger, Sebuah Kearifan Perangi Seks Bebas Ngalam.co
Comments
Loading...