budayajawa.id

Tradisi Perahu Tenggelam di Pulau Kambing

0 12

Tradisi Perahu Tenggelam di Pulau Kambing

Upacara tradisi selalu dikaitkan dengan upaya untuk membuang sial atau untuk mendapatkan keselamatan dalam menjalani kehidupan. Begitu juga yang dilakukan di Pulau Kambing Kabupaten Sampang Madura. Untuk membuang sial, para nelayan sengaja membalikkan perahu atau mengisinya dengan air hingga penuh agar perahu tenggelam. Sebagaimana upacara tradisi yang lain, tak ada satu wargapun yang bisa menjelaskan sejak kapan dimulainya upacara tradisi ini. Konon, tradisi menenggelamkan perahu atau biasa disebut dengan Perahu Tenggelam ini sudah ada sejak nenek moyang mereka menghuni pulau itu. Terutama para nelayan yang berada di ujung barat pantai. Tetapi prosesi upacara Perahu Tenggelam ini benar-benar unik dan berbeda dengan upacara tradisi lainnya. Biasanya, prosesi upacara tradisi selalu melibatkan banyak orang bahkan melibatkan hampir seluruh warga masyarakat desa.

Prosesi upacara Perahu Tenggelam ini harus dilakukan seorang diri, bahkan wajib dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tak ada orang lain yang melihatnya. Alasan yang didapat secara turun temurun, kalau ada orang lain melihat seseorang sedang melakukan upacara tradisi dengan menenggelamkan perahunya maka orang tersebut akan membantu mengangkat perahu yang ditenggelamkan itu. Bagi warga masyarakat Pulau Kambing, membantu mengangkat perahu yang tengah ditenggelamkan pada saat upacara Perahu Tenggelam adalah pantangan. Mereka mempercayai, kepedulian itu justru dianggap lancang dan rnelukai hati orang yang tengah mengelar upacara tradisi.

Lokasi untuk menenggelamkan perahu pun tidak boleh dilakukan disembarang tempat. Upacara tradisi Perahu Tenggelam ini biasanya dilakukan di depan makam Bangsacara Ragapadmi, yakni nenek moyang yang dipercaya sebagai leluhur Pulau Kambing. Anehnya, meski upacara Perahu Tenggelam mi wajib dilakukan di depan makam Bangsacara Ragapadmi, tetapi upacara ini tak ada hubungannya sama sekali dengan mitos Bangsacara Ragapadmi. Mitos Bangsacara Ragapadmi berdiri sendiri sebagai sebuah mitos yang dipercaya masyarakat Madura.

Mitos Bangsacara Ragapadmi mengisahkan permaisuri Raja Bangkalan yang dibuang ke Pulau kambing. Konon, dahulu kala Raja Bangkalan memiliki permaisuri cantik yang bernama Ragapadmi. Kecantikan Ragapadmi yang tak tertandingi itu tiba-tiba sirna, sebab entah karena apa secara tiba-tiba Ragapadmi menderita penyakit yang menjijikkan. Ragapadmi pun akhirnya diasingkan di sebuah pulau yang sangat sepi dan hanya dihuni kambing. Pengasingan Ragapadmi in ternyata membuat trenyuh salah seorang punggawa kerajaan yang bernama Bangsacara. Punggawa itu pun secara rutin mengunjungi Ragapadmi.

Pepatah “tak kenal maka tak sayang” atau adanya cinta karena terbiasa” pun teijadi. Saking seringnya Bangsacara bertemu Ragapadmi, akhirnya Bangsacara jatuh hati. Bahkan Bangsacara benar-benar tidak peduli dengan penyakit yang diderita Ragapadmi. Anehnya, ketika kata-kata “cinta” itu diucapkan Bangsacara, tiba-tiba saja Ragapadmi sembuh penyakitnya. Kulitnya kembali mulus dan wajahnya kembali cantik. Raja Bangkalan yang mendengar Ragapadmi telah sembuh akhirnya merninta Ragapadmi untuk kembali ke istana. Tapi permintaan Raja Bangkalan ini ditolak Ragapadmi. Bahkan, permaisuri cantik itu memutuskan untuk tetap tinggal di Pulau Kambing.

Bagsacarapun akhirnya kawin dengan Ragapadmi. Mereka hidup rukun dengan anak cucunya di pulau yang akhirnya terkenal dengan nama Pulau Kambing. Dan ketika mereka meninggal, keduanya pun dimakamkan di pulau itu. Keturunan Bangsacara Ragapadmi dan masyarakat sekitar hingga saat mi sangat percaya bahwa Pulau Kambing memiliki kekuatan magis dan merupakan tempat untuk mengusir kesialan. Tetapi entah kenapa wujud mengusir kesialan itu harus dilakukan dengan cara menenggelamkan perahu.

Source http://www.lontarmadura.com/ http://www.lontarmadura.com/tradisi-perahu-tenggelam-pulau-kambing/
Comments
Loading...