Tradisi Pantangan Dan Kuwalat Di Bekasi

0 375

Tradisi Pantangan Dan Kuwalat Di Bekasi

Tradisi ini merupakan bentuk folklore, yang tidak diketahui siapa pencipta dan asalnya, pantangan ini digunakan sebagai saran atau himbauan. Diantaranya adalah :

  1. dilarang membuang sampah ke sungai, jka ada buaya yang memangsanya itu adalah kuwalat baginya karena telah mencemarkan sungai.
  2. untuk mencegah sepasang buaya putih penunggu sungai marah, masyarakat Melayu Betawi  ”nyugu” dengan membawa sesajen kembang tujuh rupa, telor ayam mentah, bekakak ayam, dan nasi kuning.
  3. tradisi menghormati sepasang buaya putih, masih tercermin dalam adat perkawinan Melayu Betawi yang mengharuskan dalam pinangan pihak mempelai laki-laki membawa sepasang roti buaya.
  4. sampah harus ditabun, maka nabun atau membakar sampah merupakan  kebiasaan orang Melayu Betawi dan menebang pohon pun tidak boleh sembarangan, karena dalam pohon kayu yang besar terdapat penunggu yang akan marah bila pohon kayu itu ditebang secara sembarangan.

Kuwalat dan ketulah sangat sulit dibedakan artinya. Kuwalat atau kewalat berarti kena walat. Ketulah berarti kena tulah, walat dan tulah adalah kena bencana, kesialan (istilaha bahasa Melayu-Betawi “sial dangkalan”)

Dalam sistem kepercayaan lama, kekuasan yang maha tinggi dipercaya adalah berupa para dewa-dewa dan dewa-dewa itu mempunyai kepala dewa (dewa tertinggi). Kebiasaan ‘nyuguin’ dan ‘ngukup’ adalah kebiasaan untuk menghormati dewa-dewa. Nyuguin (berupa sesajen dalam masyarakat Jawa) dan diungkupin (yaitu dengan membakar kemenyan yang asap-asapnya dibawa ke setip sudut rumah).

Source http://paristadp.blogspot.co.id http://paristadp.blogspot.co.id/2016/03/ada-istiadat-masyarakat-bekasi.html
Comments
Loading...