Tradisi Nyadran Giyanti Wonosobo

0 93

Tradisi Nyadran Giyanti Wonosobo

Tradisi upacara Nyadran Giyanti merupakan kegiatan rutinitas tahunan masyarakat Desa Giyanti setiap 1 Suro di daerah Wonosobo. Menurut sesepuh desa upacara nyadran selalu dilakukan oleh masyarakat Desa Giyanti sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan yang melimpah dan permohonan keselamatan. Sebelum acara inti Nyadran di Giyanti masyarakat membuka rumah mereka untuk acara beranjangsana atau silaturaahmi dengan tujuan mempererat hubungan secara individu maupun kemasyarakatan. Adapun prosesi Upacara Nyadran Giyanti terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yaitu:

Nyadran di Makam

Nyadran mempunyai makna mengunjungi makam leluhur yang dikeramatkan. Mengunjungi beberapa makam leluhur atau pendiri Desa Giyanti dengan membawa sesaji berupa tumpeng, telur, buah-buahan, beberapa jenis minuman seperti air teh, kopi, dawet, serta beraneka buah-buahan dan kembang setaman. Selain itu juga ada yang membawa tandu replika pendiri Desa Giyanti yang terbuat dari kain.Tipologi orang Jawa adalah hidup damai, selaras, serasi dan seimbang sehingga dalam menjalani laku kehidupan, orang Jawa cenderung tidak mau mengganggu dan di ganggu.

Tenongan

Tenongan adalah sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bamboo berbentuk bulat dan memiliki tutup bulat juga. Tenongan digunakan untuk wadah makanan atau jajan pasar berupa pala kependem misalnya; ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah serta umbi-umbian yang lain. Berbagai macam buah-buahan, nasi dan lauk lengkap, bubur, jagung, kerupuk, ketimun dan masih banyak jenis makanan yang lain. Tenongan dibawa oleh ibu-ibu dan remaja putri berarak-arakan menuju ke pendopo desa.

Prosesi Upacara di Pendopo Desa

Prosesi di Pendopo desa diawali peletakan sesaji di bawah pohon beringin depan Pendopo desa. Pohon beringin diyakini menjadi tempat leluhur, danyang desa. Menurut Purwadi (2009:16) bahwa pohon beringin, kuburan tua, sumber air yang tersembunyi menjadi tempat keramat atau punden.

Rakanan

Rakanan adalah pembagian makanan yang ada dalam tenongan. Warga bebas untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan warga desa Giyanti secara berebutan ( rayahan).

Festival Embek

Pada upacara Nyadran Giyanti selalu dimeriahkan oleh berbagai pertunjukkan seni diantaranya Festival Emblek yang diikuti dari beberapa desa. Peserta untuk tahun ini adalah 15 peserta. Emblek atau kuda lumping menggambarkan para prajurit berkuda, karena kesenian ini mengambil ceritera babad Kediri atau kisah Raden Panji Asmorobangun. Dikisahkan, Raden Panji dari Kerajaan Jenggala, bersambung asmara dengan Dewi Sekartaji (Dewi Candrakirana), Putri Raja Kediri.Komposisi tari Emblek pada umumnya adalah terdiri dari 7 orang penari dengan rincian 1 pimpinan pasukan berkuda dan 6 Prajurit. Properti yang digunakan diantaranya kuda yang terbuat dari kepang (emblek), senjata seperti pedang dan tombak kecil. Bentuk tari Emblek di Wonosobo sudah mengalami perkembangan terutama pada penggarapan estetika gerak dan busana yang digunakan lebih variatif.

Source https://suryawibowodua.wordpress.com https://suryawibowodua.wordpress.com/nyadran-di-giyanti-wonosobo/
Comments
Loading...