Tradisi Nyadran di Desa Wisata Onje Purbalingga

0 65

Tradisi Nyadran di Desa Wisata Onje Purbalingga

Bulan Sadran dalam bahasa Jawa atau bulan Syaban menjadi bulan yang istimewa bagi sebagian besar masyarakat Desa Onje Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Bulan Syaban itu disambut dengan gegap gempita. Menyambut Bulan Sadran itu, masyarakat menggelar prosesi khusus. Pada malam hari, warga menyuguhkan tumpeng dalam ukuran besar dan dimakan bersama. Namun sebelum makan nasi penggel, warga harus mandi di pertemuan (tempuran) arus tiga sungai, masing- masing Sungai Thahab, Sungai Paku dan Sungai Pingen.

Sekitar pukul 21.00 malam Jumat Kliwon, halaman Pendopo Desa Puspa Jaga Desa Onje dipenuhi warga. Tua, muda dan anak- anak semua menjadi satu. Tak heran, pendapa di halaman kantor desa itu tumpah ruah saking banyaknya warga yang mengikuti prosesi Nyadran tahunan. Sekilas terlihat lampu listrik dipadamkan oleh petugas ritual di pendapa balai desa itu. Pemandangan indah segera nampak, Ratusan obor mengelilingi halaman dan pendapa. Sembari diiringi musik gamelan khas Jawa, prosesi berdoa bersama di dekat tumpeng berukuran besar dimulai.

Berbagai kidung, sholawat dan doa dalam Bahasa Jawa dilantunkan. Kepala desa setempat malam itu bak raja yang duduk di singgasana. Dia yang nantinya akan menerima simbolis nasi tumpeng sebelum diarak ke Masjid tertua di Purbalingga, yaitu Masjid Sayyid Kuning. Kurang lebih 40 menit prosesi di pendapa usai. Rombongan segera menuju ke Masjid Sayyid Kuning yang berjarak sekitar 500 meter dari balai desa. Atraksi obor dengan api menyala besat mengiringi salawatan di sepanjang jalan. Di barisan paling depan, ratusan anak-anak warga desa setempat membawa obor untuk penerangan. Di belakangnya, dengan busana adat Jawa, Kades Onje Budi Tri Wibowo, tokoh agama dan tokoh masyarakat, dan empat orang berbusana adat Jawa yang memikul tandu berisi nasi penggel, yakni nasi yang dibentuk bulat seperti bola pingpong.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Kidungan Penggel di balai desa. Kemudian Nasi Penggel itu diarak ke mesjid Sayyid Kuning, Nasi penggel ini untuk acara selamatan warga. Sebelum menyantap nasi penggel, warga beriringan menuju ke Jojok Telu, yakni sebuah tempuran (pertemuan) tiga Sungai Tlahab, Sungai Paku dan Sungai Pingen, tidak jauh dari kompleks Masjid Raden Sayyid Kuning. Di tempuran, setelah didoakan oleh Kyai Maksudi, sejumlah warga melakukan ritual mandi dan berendam. Karena kondisi debit air sungai yang tengah meluap, warga mempersingkat acara mandi dan berendam di tempuran tersebut.

Source http://radarbanyumas.co.id http://radarbanyumas.co.id/melihat-prosesi-nyadran-komunitas-aboge-desa-onje-kecamatan-mrebet/

Leave A Reply

Your email address will not be published.