Tradisi Njagong Bayi

0 240

Tradisi Njagong Bayi

Tradisi Njagong di masyarakat Jawa biasa di lakukan setelah bayi sudah lahir,para tetangga berbondong-bondong dan datang kerumah  orang yang baru lahiran dan biasanya juga membawa amplop yang berisikan sejumlah uang.

Tidak lain halnya dengan  syukuran dan brokohan. Tradisi  ini di sebut juga dengan majelis dzikir. Orang-orang yang terdiri dari sanak saudara dan tetangga datang dan membacakan doa bagi sang bayi.

Acara ini ditujukan sebagai rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan atas kelahiran si jabang bayi selaku calon generasi penerus bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Agar menjadi anak yang berbakti dan menjadi anak yang baik bagi semua yang ada di lingkungan sekitarnya.

Latar belakang tradisi ini berasal dari kata “njagong” dalam bahasa Jawa yang berarti duduk-duduk bercengkerama bersama sambil menikmati hidangan. Tuan rumah juga ikut njagongi dalam artian ikut menemani dan berbincang-bincang para undangannya sambil makan bersama, makanan yang disuguhkan tersebut sebagai sedekah. Para undangan datang dalam rangka turut berbahagia atas kelahiran sang buah hati dari orang yang mempunyai hajat.

Pada pelaksanaan acara tersebut dilakukan pembacaan terhadap kitab-kitab  dimaksudkan untuk memohon keberkahan kepada Allah melalui kemuliaan Rasul-Nya sehingga semua yang dihajatkan mendapat ridha dari Allah swt. Tradisi yang satu ini berakhir pada hari ke lima sebab puncaknya berada di hari ke lima tersebut dan di lanjutkan dengan sepasaran serta acara yang seterusnya.

Kitab-kitab yang di bacakan tadi berisikan tentang hal Maulid Nabi Muhammad saw, seperti al-Barzanji (berzanjian), shalawat Burdah Syaikh al-Bushairi (burdahan), dan kitab maulid ad-Diba’i (diba’an), terkadang pula dibacakan kitab manaqib.

Source Tradisi Njagong Bayi irfanyudhistira
Comments
Loading...