Tradisi Ngubur Bali Bandung Jawa Barat

0 12

Tradisi Ngubur Bali

Tradisi ngubur bali adalah tradisi yang sering dilakukan oleh orang sunda khususnya. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun dan memiliki arti juga kepercayaan tersendiri, yang diyakini oleh masyarakat sunda. Walaupun hal ini merupakan mitos, akan tetapi banyak masyarakat sunda yang meyakininya. Karena, sudah menjadi tradisi dari zaman dahulu. Tradisi ngubur bali biasanya dilakukan saat seorang ibu melahirkan bayi beserta bali-nya atau plasenta. Bali atau plasenta yang telah digunting dari pusar sang bayi dimasukkan ke dalam guci yang terbuat dari tanah liat.

Hal ini biasanya dilakukkan oleh nenek sang bayi, ayah, atau orang yang membantu proses melahirkan, misalnya bidan atau “paraji”, sambil diiringi bacaan doa. Bali yang telah dimasukkan ke dalam guci tersebut biasanya diberi bumbu, diantaranya bawang merah, bawang putih, gula, garam, dan asem. Bumbu tersebut biasanya memberikkan tanda khusus kepada sang bayi. Misalnya, apabila gula yang dimasukkan banyak, maka akan menandakan sifat dari bayi yang manis dan murah senyum. Kemudian, apabila asem yang dimasukkan banyak, maka sifat dari sang bayi itu kecut atau tidak murah senyum. Lalu bali yang sudah dibumbui dalam guci tersebut, kemudian dikubur di dalam tanah. Baik di halaman ataupun dibelakang rumah. Karna jika tidak dikubur akan menimbulkan bau busuk.

Dan konon katanya, bali yang tidak dibumbui dan tidak dikubur akan tercium harum oleh mahluk halus. Akibatnya sang bayi akan selalu rewel jika menjelang maghrib sampai tengah malam. Dan sang bayi akan sering panas badannya (hare’eng). Setelah guci yang berisi bali dikubur ke dalam tanah, biasanya di samping kuburan itu ditanami pohon hanjuang ataupun pohon lidah buaya. Karena pohon tersebut dipercaya bisa mengusir mahluk halus yang akan mengganggu (ngoprek) bali tersebut.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Ngubur-Bali/
Comments
Loading...