Tradisi Nginang Wanita Yang Sudah Menikah Di Banyuwangi

0 51

Tradisi Nginang Wanita Yang Sudah Menikah Di Banyuwangi

Secara spesifik desa yang menjadi mayoritas tempat tinggal dari suku Osing bernama desa Kemiren kecamatan Glagah, Banyuwangi. Di desa inilah suku Osing melangsungkan setiap kegiatan dan aktifitasnya mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali di malam hari. Karena semakin pesatnya perkembangan di zaman globalisasi seperti ini, tidak membuat suku Osing goyah akan godaan-godaan yang bisa saja menyerang mereka dan melunturkannya.

Berkat ketaatan dan kesetiaan mereka lah suku Osing tidak pernah berubah keasliannya alias masih sama seperti dahulu kala sejak pertama kali suku ini lahir. Berbagai tradisi dan kesenian sering dilakukan oleh masyarakat Osing apalagi saat ini pariwisata berkembang sangat pesat tidak hanya di Indonesia bahkan luar negeri. Membuat setiap daerah saling berlomba untuk menunjukkan keunikannya demi mendapat keuntungan dari setiap wisatawan yang datang. Salah satu tradisi yang masih ada saat ini adalah tradisi Nginang yang dilakukan warga Banyuwangi.

Nginang adalah mengunyah sirih, tembakau, jambe, gambir dan kapur. Tradisi nginang atau mengunyah sirih ini sudah sulit kita temui pada masyarakat perkotaan di Indonesia. Namun di Desa Kemiren, tradisi nginang ini masih banyak yang melakukannya, meskipun terbatas di kelompok usia lanjut saja. Tradisi Nginang sendiri hanya boleh dilakukan oleh wanita yang sudah menikah, dengan kata lain nginang bisa menjadi penanda apakah seorang wanita sudah mempunyai pasangan hidup atau belum. 

Yang membuat unik, setiap tahun diadakan lomba nginang bagi para warga Desa Kemiren. Tujuan diadakan lomba nginang adalah untuk melestarikan tradisi nginang di kalangan masyarakat desa Kemiren. Hal ini dilator belakangi fakta bahwa kegiatan nginang sudah nyaris hilang di kalangan anak muda. Maka tidak  heran jika pesertanya adalah nenek-nenek berusia di atas 50 tahun yang merupakan perwakilan dari 28 RT di Desa Kemiren.

Dalam lomba nginang tersebut,  para nenek duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia untuk menunggu giliran tampil di panggung. Nenek-nenek penjaga tradisi itu memakai baju terbaiknya yaitu jarik dan kebaya. Setiap peserta membawa tempat kinang dari rumah. Tempat kinang biasanya terbuat dari kuningan atau kayu yang berukir indah. Kriteria penilaian didasarkan pada kepiawaian para nenek ketika meracik dan mengunyah sirih sambil melakukan wangsalan atau berbalas pantun, menari atau nembang. Tentu dibutuhkan kemampuan multitasking yang mumpuni untuk melakukan itu semua.

Source http://pemanduwisatabudaya2015.blogspot.co.id/ http://pemanduwisatabudaya2015.blogspot.co.id/2016/01/tugas-3-pariwisata-sejarah-dan-budaya_3.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.