Tradisi Ngarot di Jawa Barat

0 365

Tradisi Ngarot di Jawa Barat

Ngarot berasal dari bahasa Sunda yaitu istilah minum/ngaleueut dan ada juga “Ngaruat” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bebas dari kutukan dewa.

Makna dari tradisi ini ialah ucapan syukur terhadap datangnya musim tanam. Masyarakat Lelea memiliki ungkapan syukur yang khas dalam menyambut musim tanam yaitu dengan Ngarot. Upacara Adat Ngarot selalu dilaksanakan pada bulan Desember pada minggu ke-3 dan melaksanakannya di hari Keramat ialah hari Rabu.

Tradisi ini hanya diikuti oleh pemuda-pemudi yang masih perawan dan perjaka. Berdasarkan buku sejarah Desa Lelea, Tradisi Ngarot bermaksud mengumpulkan para pemuda-pemudi yang akan diberi tugas bertani di tunjuk yang pemuda pemudi sebab mereka agar saling bekerja sama dan bergotong royong dalam mengolah sawah.Selain itu juga untuk membina pergaulan yang sehat, agar saling mengenal, saling menyesuaikan sikap, kehendak, tingkah laku, yang sesuai dengan adat budaya.

Upacara Ngarot terdiri dari tiga bagian yaitu :

-Arak-arakan,

-Seserahan

-Pesta pertunjukan.

Peserta yang mengikuti upacara Ngarot harus menggunakan pakaian khas, yaitu remaja putri menggunakan kebaya berselendang dilengkapi aksesoris seperti kalung,gelang,cincin,bros,peniti emas, dan hiasan rambut. Sedangkan remaja putra menggunakan baju komboran dan celana gombrang beserta ikat kepala.

Tradisi yang satu ini dimulai jam 08.30 dan semua peserta Ngarot berkumpul di rumah Kepala Desa Lelea, Indramayu untuk di dandani. Kemudian pemuda-pemudi di arak mengelilingi kampung dengan kepala desa berada pada urutan paling depan disusul remaja putri dan remaja belakang di barisan belakang.

 Lalu masuk tahap inti acara,langkah-langkah yang harus di lalui ialah :

  1. Pembukaan
  2. Pembacaan Sejarah Ngarot
  3. Ucapan sambutan dari kepala desa Lelea, Indramayu
  4. Proses Penyerahan kepada para kasinoman (pemuda-pemudi)

Sedangkan untuk Prosesi Penyerahan terdiri dari :

  1. Kuwu (Kepala Desa) menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya benih tersebut agar ditanam dan disebar.
  2. Ibu kuwu (Istri Kepala Desa) menyerahkan kendi berisi air putih, maksudnya adalah untuk mengobati tanaman padi yang telah ditanam sebagai lambang pengairan.
  3. Tetua desa menyerahkan pupuk, maksudnya adalah agar tanaman tetap subur
  4. Raksa bumi menyerahkan alat pertanian, maksudnya adalah untuk mengolah tanah pertanian dengan baik
  5. Lebe (sebutan tokoh agama di Indramayu) menyerahkan sepotong bambu kuning, daun androing dan daun pisang yang akan di tancapkan di sawah, maksudnya adalah agar tanaman padi terhindar dari serangan hama.
Source Tradisi Ngarot Di Jawa Barat wikipedia
Comments
Loading...