Tradisi Ngalungi Sapi Rembang

0 72

Tradisi Ngalungi Sapi Rembang

Tradisi “Ngalungi Sapi” termasuk dalam jenis kegiatan ritual yaitu aktivitas simbolik  yang dilakukan untuk kepentingan seseorang atau kelompok orang (masyarakat) oleh karena alasan-alasan tertentu, seperti memperingati/atau terjadinya peristiwa penting atau mengantisipasi peristiwa-peristiwa tertentu yang dianggap negatif. Ngalungi Sapi, kata “Ngalungi” berarti memberi kalung, dan Sapi adalah hewan sapi yang biasa kita ketahui. Sehingga  Ngalungi Sapi bisa diartikan sebagai memberi kalung pada sapi, kalung disini berupa ketupat yang khusus dibuat untuk dikalungkan pada leher sapi. Mengenai tradisi ngalungi sapi yang ada di desa Jukung ini, kepercayaan yang beredar di masyarakat berawal dari:

Pada masa itu Mbah Mranggi meminta tanah kepada Prabu Joko untuk digarap sebagai ladang, dan beliau diberi tanah ditepi hutan. Masyarakat Jukung yang pada saat itu sebagaian besar beternak sapi atau kerbau biasa menggembalakan sapi atau kerbaunya di tepi hutan. Setelah itu hewan ternak mereka ditinggal tanpa di tunggui. Karena tidak ditunggui, hewan ternak mereka menyerang ladang Mbah Mranggi dan warganya. Sebagai masyarakat awam yang belum banyak mengenal agama Islam, masyarakat dusun Jukung tidak berani mendatangi Mbah Mranggi untuk meminta maaf secara langsung, selain tidak berani mereka juga segan untuk menemui beliau.

Lama kelamaan ternak penduduk dusun Jukung semakin menyerang tanaman, hingga akhirnya Mbah Mranggi mengundang pemilik ternak untuk dikumpulkan di ladang tepi hutan. Dari pertemuan ini Mbah Mranggi meminta kepada penduduk dusun untuk meminta maaf pada pemilik ladang karena ulah ternak mereka. Apabila tidak meminta maaf, Mbah Mranggi mengancam dengan mengepalkan telapak tangan yang kelak para penggembala menyebutnya kupat kepel. Dalam pertemuan tersebut Mbah Mranggi mengataka pada para penggembala bahwa mereka harus meminta maaf pada para petani. Mbah Mranggi mengatakan jika mereka harus bertanggung jawab melepas (kuffah/nguculi) kesalahan (lepat) sapi-sapi mereka yang tidak memiliki akal dan pikiran dengan cara mengganti dengan memberi makanan kepada para petani sebelum masa tanam padi.

Para penggembala kemudian berpikir, dalam setahun masyarakat desa umumnya bertanam padi dua kali berarti mereka harus memberi makanan dua kali pula. Masyarakat Jawa menterjemahkan kupat sebagai suku papat atau berkaki empat yang dalam hal ini adalah sapi. Ketika penduduk membuat makanan mereka tidak lupa membuat lepet yang diterjemahkan menjadi lepat atau kesalahan. Para pemilik sapi dalam membuat kupat juga tidak lupa membuat lepet karena suku papat atau sapi-sapi mereka tidak lepas dari lepat atau salah sebab sapi-sapi itu tidak mempunyai akal pikiran ketika mereka memakan tanaman petani.

Ketika para penggembala mengatar makanan ke ladang, mereka merasa terlalu berat membawa 40 buah kupat dan 10 buah lepet, kemudian mereka mengalungkan 40 buah kupat dan 10 buah lepet itu dileher sapi-sapi mereka. Setibanya di ladang para petani yang melihat sapi-sapi tersebut berkata, “ngalungi sapi.” Saat ini tradisi ini tradisi ngalungi sapi dilaksanakan tiga kali dalam setahun yaitu pada saat sebelum masa menanam padi, sesudah panen, pelaksanaan tradisi ngalungi sapi pada saat sebelum menanam padi dan setelah masa panen merupakan ungkapan terima kasih petani atas bantuan dan jasa-jasa sapi-sapi mereka dalam membantu kegiatan pengolahan ladang pertanian penduduk, seperti mebajak sawah mengguakan petani, kotoran sapi digunakan sebagi pupuk. Sementara pelaksaan tradisi ngalungi sapi pada satu hari khusus yaitu hari Selasa Pahing Bulan Selo disebut sebagai hari ulang tahun sapi.

Source https://sejarahorison.wordpress.com https://sejarahorison.wordpress.com/2016/12/13/tradisi-ngalungi-sapi/

Leave A Reply

Your email address will not be published.