budayajawa.id

Tradisi Mokka’ Blâbâr

0 26

Tradisi Mokka’ Blâbâr

Tradisi Mokka’ Blâbâr merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sampang, Madura. Tradisi ini sebagai bentuk rangkaian dari peristiwa adat perkawinan masyarakat setempat, yang pelaksanaannya dilakukan sebelum perkawinan berlangsung. Dalam proses pelaksaan tradisi ini dimulai ketika mempelai pria akan memasuki pekarangan rumah pengantin wanita. Namun untuk memasuki pekarangan tersebut ada sejumlah syarat yang harus dijalankan, yaitu sangan pengantin beserta rombongan (besan dari keluarga pengantin pria) harus melewati tujuh tirai atau Blâbâr  berwarna merah yang dijaga oleh sesepuh keluarga mempelai wanita.

Ketika memasuki pekarangan pimpinan dan rombongan dari pengantin pria harus  menyobek Blâbâr untuk bisa menemui keluarga pengantin wanita. Setiap menyobek tirai harus menjawab pertanyaan simbolik penjaga tirai, yakni sesepuh dari keluarga pengantin wanita. Tanya jawab (dialog) tersebut terjadi dengan ungkapan bahasa kias, yaitu kalimat yang biasa digunakan dalam saloka. Dalam tahapan masuk dan menyobek tirai keluarga  pria harus jeli menafsirkan kalimat-kalimat yang diajukan oleh penjaga tirai. Sebab resikonya, bila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab bisa menjadi rencana perkawinan kedua mempelai.

Sebagai misal ada pertanyaan yang dilontarkan penjaga tirai ketika memasuki  tirai ketujuh misal, apa makna atau kias “kapur dan sirih”, interpretasinya bisa dipahami sebagai “suci dan berani” dalam membina rumah tangga Jadi hakikatnya berumah tangga ialah memadukan dua hati untuk membangun masa depan.

Tradisi Mokka’ Blâbâr merupakan simbol bagi kedua mempelai bahwa berumah tangga itu sulit dan mempunyai tanggung jawab yang tinggi. Jika tidak mampu menembus berbagai rintangan, maka besar kemungkinan rumah tangga akan cepat goyah. Prosesi tradisi Mokka’ Blâbâr sekarang ini memang jarang dilakukan karena dianggap tidak praktis dan tidak relevan lagi pada jaman sekarang. Bahkan sekarang ini, masyarakat yang menggelar tradisi ini masih ada, tapi tidak seutuhnya digunakan, hal itu dikarenakan akan memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit, jadi hanya 20 persen dari keseluruhan susunan prosesi yang dikurangi oleh masyarakat.

Mokka’’ Blâbâr ini sudah menjadi tradisi turun temurun di Sampang, yang secara simbolik menunjukan perjuangan mempelai pria untuk dapat meminang wanita idamannya tidaklah mudah, sebab dalam sepuluh tirai yang harus di lalui itu masing-masing tirai ada sesuatu pertayaan yang harus di jawab oleh rombongan mempelai pria, kalau tidak bisa menjawab bisa mengagalkan pernikahan itu Nilai filosofis yang paling mendasar ialah upaya serius lagi pengantin laki-laki untuk bisa hidup bersama dan menyingkirkan semua bentuk hambatan kehidupan dalam rumah tangga.

Yang menarik dalam tradisi pengantin mukkak glabar di Madura ini ialah pembacaan ikrar secara bergantian antara pengantin laki-laki dan perempuan untuk saling menerima atas kekurangan keduanya, hingga kehidupa kelak di akhirat. Tampak sekali pesan moral agama di tradisi mukkak glabar ini yang diucapkan kedua pasangan pengantin dan ikrar yang mereka ucapkan disaksikan orang banyak.

Source http://www.lontarmadura.com http://www.lontarmadura.com/mokka-blabar-tradisi-sebelum-acara-perkawinan/
Comments
Loading...