Tradisi Mbayahi Di Boyolali

0 24

Tradisi Mbayahi Di Boyolali

Tradisi “Mbayahi”, Sebuah upacara arak-arakan dan padusanuntuk seseorang (biasanya sudah menjadi buyut) yang telah mempunyai anak, cucu dan cicit berjumlah 25 orang. Kemeriahan acara seperti ini hampir menyerupai meriahnya karnaval ketika acara 17-an. Ramai sekali, bahkan warga satu kampung pun turut turun ke jalan untuk meramaikan.

Jadi begini penjelasannya: misalkan kita mempunyai 5 anak dan semuanya sudah menikah, lalu lahir 10 cucu, kemudian semua cucu tadi menikah dan melahirkan 10 anak yang disebut cicit, maka kita sudah memenuhi syarat untuk “Bayahan”. Menurut penjelasan dari orang tua di kampung, Mbayahi adalah perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan umur panjang, keluarga yang banyak hingga punya buyut, dan sebagai ajang kumpul seluruh keluarga, karena dalam tata cara tradisi tersebut seluruh anggota keluarga lengkap berkumpul untuk dimandikan massal.

Adapun tata cara upacaranya adalah mengarak seluruh keluarga yang jumlahnya 25 orang keliling kampung dengan buyut berada di posisi depan untuk  diantar ke ke kali/sungai/sendang besar yang airnya mengalir, lalu semua keluarga mandi di sana. Khusus untuk buyut, yang dimandikan dan dioakan. Untuk doa yang dirapal, hanya Tuhan dan juru kunci yang tahu. Setelah selesai mandi, kemudian seluruh anggota keluarga diarak kembali mengelilingi kampung untuk kembali ke rumah tinggal. Acara mandi diselingi tari-tarian kuda, dan ketika arak-arakan berangkat serta pulang diiringi dengan alunan gamelan dari reog.

Sebagai rasa syukur, biasanya keluarga besar tersebut memberikan hiburan berupa reog, wayang atau seni musik tergantung kemampuan finansial keluarga. Reog sendiri termasuk kesenian yang sangat populer di kota yang terkenal dengan susu ini, khususnya di Kecamatan Karanggede.

Source http://hellosemarang.com http://hellosemarang.com/uniknya-tradisi-mbayahi-dan-kesenian-reog-di-boyolali/

Leave A Reply

Your email address will not be published.