Tradisi Manganan Bojonegoro

0 162

Tradisi Manganan Bojonegoro

Tradisi sedekah bumi (manganan) atau ada juga yang menyebutnya dengan nyadran yang pelaksanaannya di setiap desa berbeda, ada desa yang menyelenggarakan manganan dengan corak nenek moyang yang dahulu menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme ada juga yang menyelenggarakan dengan corak Islami atau dengan hasil akulturasi antara kebudayaan nenek moyang dengan ajaran Islam, manganan yang dilaksanakan dengan corak asli dilakukan dengan menggunakan sesaji sedangkan manganan yang dilakukan dengan cara Islami biasanya disisipi pengajian. Dalam artikel ini akan dibahas bagaimana sedekah bumi (manganan) sebagai tradisi peninggalan nenek moyang di tengah-tengah keadaan masyarakat modern nan kritis ini dan juga bagaimana perkembangan tradisi sedekah bumi (manganan) sebagai tradisi yang masih melekat di masyarakat Bojonegoro ini.

Sejarah tradisi manganan ini berasal dari generasi terdahulu, khususnya masyarakat petani yang bersyukur atas hasil panen. Ciri khas perayaan manganan adalah umumnya diadakan di tempat yang dianggap keramat. Tujuan dari pelaksanaan tradisi manganan adalah mengucapkan syukur atas karunia Tuhan dari hasil panen, memohon agar desanya terhindar dari bencana dan penyakit dan memohon agar panen selanjutnya melimpah. Tetapi karena saat ini mayoritas masyarakat menganut agama Islam yang melarang menyembah tuhan selain Allah S.W.T, jadi sekarang tradisi manganan disisipi panjatan do’a kepada Allah S.W.T, karena diyakini bahwa nenek moyang dulu masih menganut Animisme dan Dinamisme. Tetapi kebanyakan desa di Bojonegoro masih menyelenggarakan manganan seperti yang nenek moyang dahulu yaitu dengan mengucap mantra-mantra dan memberi sesaji. Masyarakat desa berdalih karena untuk melestarikan tradisi persis dengan nenek moyang terdahulu agar tradisi tersebut tidak luntur. 

Penyelenggaraan manganan di suatu desa berbeda dengan desa yang lain meskipun dengan tujuan yang sama, sebagai contoh : manganan di desa A dilakukan di tempat yang dianggap keramat atau memiliki kekuatan magis seperti kuburan, sumur tua, sendang, pohon tua, dll dengan menaruh sesaji yang diletakkan di tempat tersebut lalu ada tokoh desa yang memimpin ritual biasanya dengan mengucap mantra dalam bahasa daerah yang bermakna memohon keselamatan desa dan keberkahan bagi desa, setelah itu akan diadakan pagelaran wayang atau pementasan tari tayub, sedangkan pelaksanaan manganan di desa B dilakukan di musholla atau masjid, di tengah-tengah ritual manganan di desa ini masyarakat membaca doa-doa syukur kepada Allah. 

Source Tradisi Manganan Bojonegoro Sandra Apriliya Permata Sari
Comments
Loading...