Tradisi Mandi Janari

0 77

Tradisi tersebut adalah kebiasaan yang dulu kerap dilakukan remaja di pedasaan, untuk mandi pada dini hari saat malam bulan purnama. Tradisi mandi ‘janari’ dipercaya warga pedesaan tempo dulu, untuk bisa cepat mendapatkan jodoh.

Para remaja biasanya menantikan malam bulan purnama dengan hati yang berbunga-bunga. Sementara para orang tua mengamati dari balik bilik rumah.

Sementara bagi anak-anak, malam bulan purnama disibukkan dengan bermain galah, hingga sasalimpetan. Mereka menghabiskan waktu dengan kegembiraan.

Para remaja nantinya akan beranjak menuju tempat pemandian, atau mata air terdekat setelah hari semakin larut menuju dini hari, atau dalam bahasa sunda disebut dengan ‘janari’. Saat cahaya bulan sedikit meredup, mereka akan mandi dan membersihkan diri. Seolah cahaya keindahan purnama itu meresap ke dalam tubuhnya.

Tradisi mandi janari juga biasa disebut ‘murnama’. Tradisi yang dikaitkan dengan upaya membersihkan diri, dnegan harapan mendapatkan jodoh secepatnya. Yang sedikit menggelikan, tradisi tersebut juga terkadang dimanfaatkan pemuda desa untuk mengintip para remaja perempuan yang mandi di mata air.

Namun, dalam artikel tersebut dituliskan, saat itu pada tahun 1986 tradisi mandi ‘janari’ sudah mulai memudar. Tradisi mandi ‘janari’ tidak lagi menarik minat para remaja.

“Cahaya purnama berlalu begitu saja. Bahkan tak ada lagi remaja yang menanti tibanya purnama. Mereka tergantikan oleh cahaya listrik masuk desa. Dan hiburan di rumah lewat video lebih banyak menarik remaja ketimbang harus berdingin-dingin dengan udara malam saat purnama.

Source https://www.pikiran-rakyat.com https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/03/04/klipingpr-menghilangnya-tradisi-mandi-janari-395178
Comments
Loading...