Tradisi Maleman, Keraton Kirim Sesaji Ke Makam Sunan Gunung Jati

0 198

Tradisi Maleman, Keraton Kirim Sesaji Ke Makam Sunan Gunung Jati

Selama 10 hari terakhir bulan Ramadan, Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, menggelar tradisi “maleman”. Hari-hari itu dikenal dengan keutamaannya berupa Lailatul Qadar, dan umat muslim pun diimbau memperbanyak doa dan dzikir.

Hajat maleman digelar setiap malam ganjil dalam rangka Lailatur Qadar, pada hajat maleman kami dari keraton mengirim minyak kelapa, lilin dan ukup ke Astana Gunung Jati atau kompleks makam Sunan Gunung Jati. Tradisi ini sudah turun temurun dilakukan dan juga ada filosofi yang terkandung dalam tradisi itu.

Di mana lilin dan minyak kelapa itu dinyalakan dengan kapas setiap malam ganjil pada sepuluh hari akhir Ramadan. Selain lilin dan minyak kelapa, dibakar pula ukup sebagai pengharum ruangan. Filosofinya, setiap sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama setiap malam ganjil, kita harus selalu siap tak tidur.

Tradisi itu dimulai Minggu malam di makam Sunan Gunung Jati. Untuk itu pada pagi tadi para kaum ibu warga keraton dengan dipimpin Raden Ayu Sarifah Isye Natadiningrat yang merupakan istri Sultan Arief, mengadakan saji ukup lilin dan delepak untuk dikirim ke Astana Gunung Jati.

Seluruh saji itu kemudian dibawa dari Keraton Kasepuhan ke Astana Gunung Jati oleh lima kraman Astana Gunung Jati yang membawa tombak, kotak, payung dan gerbong. Menurut Sultan tradisi ini merupakan salah satu dakwah sejak zaman Sunan Gunung Jati yang mengandung makna filosofis.

Umat Islam untuk terjaga dari tidur dan lebih banyak berdoa, berdzikir, membaca Alquran, salat sunah dan ibadah lainnya. Dengan begitu, diharapkan para malaikat yang membawa rahmat Allah lailatul qadar datang kepada umat.

Source https://www.merdeka.com/ https://www.merdeka.com/peristiwa/tradisi-maleman-keraton-kirim-saji-ke-makam-sunan-gunung-jati.html
Comments
Loading...