Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud Kediri

0 191

Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud Kediri

Tradisi larung sesaji Gunung Kelud yang selalu unik serta sakral. Tradisi yang dilakukan warga lereng kelud ini, selain sebagai rasa syukur dengan hasil bumi, juga sebagai salah satu cara memohon perlindungan Tuhan. Sejumlah masyarakat dan para wisatawan tampak antusias mengikuti rangkaian acara larung sesaji ini. Kegiatan berpusat di area parkir paling atas kawasan wisata Gunung Kelud atau berada satu kilometer dari bibir kawah Kelud.

Ada 5 warga desa yang mengikuti larung ini. Mereka dari Desa Sempu, Babadan, Sugihwaras, Pandantoyo dan Ngancar. Seperti biasanya, gunungan sesaji berisi hasil kekayaan alam atau hasil bumi dari lereng kelud, seperti buah nanas, ubi, nangka, pisang, serta nasi lengkap dengan lauknya. 

Sesaji ini seharusnya akan dilarung di kawah, namun karena kondisi kawah masih berbahaya dan dalam proses normalisasi, maka sesaji akan direbutkan dekat dengan bibir kawah. Masyarakat dan wisatawan sangat tertarik kepada gunungan, selain karena dipercaya akan mendapatkan berkah, gunungan juga dibentuk menyerupai ayam jago.

Salah satu warga, Jaminem, ibu 3 anak ini merasa akan mendapatkan berkah, kesehatan dan keselamatan jika berhasil mendapatkan sesaji usai didoakan oleh sesepuh dan pemuka agama di lereng Kelud. Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Adi Suwignyo mengaktakan, ritual larung sesaji adalah ritual tahunan yang digelar oleh masyarakat lereng kelud setiap bulan Suro sesuai penanggalan Jawa.

Mitos yang berkembang di masyarakat ritual sesaji di Gunung Kelud merupakan simbol penolak bala dari kemarahan Lembu Suro, salah satu punggawa kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting putri Raja Kediri, Dewi Kilisuci. Masyarakat percaya roh Lembu Suro bersemayam di dasar kawah Kelud.

Source Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud Kediri Detiknews
Comments
Loading...