Tradisi Labuhan Pantai Ngliyep Malang

0 106

Tradisi Labuhan Pantai Ngliyep Malang

Pantai Ngliyep adalah sebuah pantai di pesisir selatan yang terletak di tepi Samudera Hindia tepatnya di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur sekitar 62 km arah selatan dari Kota Malang. Dari Kota Malang, Ngliyep sangat mudah dijangkau karena sejak tahun 1980 akses menuju pantai telah diaspal. Jika menggunakan angkutan umum dari Kota Malang bisa naik mikrolet jalur GN1, yaitu jalur Gadang-Ngliyep lewat Donomulyo atau jalur GN2, yakni jalur Gadang-Ngliyep lewat Sumbermanjing kulon atau yang sekarang dikenal dengan nama Kecamatan Pagak.

Pantai ngliyep setiap bulan maulud pasti diadakan upacara labuhan untuk memberikan persembahan kepada penguasa gaib laut selatan, Kanjeng Ratu kidul atau Nyai Roro Kidul. Pantai ini berada di desa Kedungsalam kecamatan Donomulyo yang terletak sekitar 80 km di selatan kota Malang dan merupakan wilayah kabupaten Malang, Jawa Timur. Upacara ini bertujuan untuk menjaga keselamatan para nelayan dari ganasnya ombak pantai selatan serta memohon berkah dengan cara mempersembahkan upeti kepada penguasa gaib sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat. Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang silam, meskipun dulunya tidak sebesar sekarang ini.

Secara keseluruhan tradisi Labuhan memiliki makna untuk mencari keselamatan bagi para masyarakat dengan cara melakukan tradisi tersebut. Dan sebagai ungkapan rasa syukur atas diberikannya keselamatan dan sebagai bentuk tradisi persembahan kepada Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan yang dimitoskan oleh masyarakat pendukungnya. Didalam tradisi labuhan pantai ngliyep Malang adanya tokoh mitologi Mbah Atun yang merupakan cikal bakal dari terjadinya tradisi labuhan. Menurut Mbah Soer, seorang tokoh masyarakat desa Kedungsalam, upacara labuhan ini dimulai pada tahun 1816. Pencetus upacara ini bernama Mbah Aton, beliau adalah seorang lurah prajurit dari kerajaan Mtaram islam yang di utus oleh Raja mataram pada saat itu untuk memimpin prajurit Mataram yang sedang melakukan babat alas di daerah pesisir pantai selatan.

Mbah aton melakukan kegiatan ini karena beliau mendapatkan amanat dari Ki Agung Darso, beliau adalah seorang pasukan yang berjasa besar dalam pembabatan alas di daearah pantai Ngliyeb, khususnya desa Kesdungsalam. Alasan mengapa Ki Agung Darsa menyuruh Mbah Aton melakukan upacara labuhan ini adalah bertemunya beliau dengan Ratu pantai selatan Nyai Roro Kidul, dalam pertemuannya ini Ki Agung Darso meminta kepada Nyai Roro Kidul untuk melindungi daerah babatan alasnya dari berbagai macam musibah dan gangguan dari makhluk halus jahat yang dapat mengganggu kehidupan kehidupan rakyat di daerah babatan beliau. Namun untuk melakukan hal itu Nyai Roro kidul menberikan perjanjian, yang isinya adalah setiap tanggal 14/15 bulan mulud harus diadakan pengorbanan kepala, jeroan, dan darah kambing. Sejak itulah kegiatan upacara ini mulai dilakukan dan terus berlangsung sampai sekarang.

Source Tradisi Labuhan Pantai Ngliyep Malang Wisata dan Budaya Malangan
Comments
Loading...