Tradisi Kupatan Durenan

0 48

Tradisi Kupatan Durenan

Lebaran ketupat di wilayah Kecamatan Durenan yang digelar setiap H+7 Idul Fitri menjadi tradisi turun-temurun yang seolah tak pernah lekang oleh waktu. Setiap tahun ada, bahkan kearifan lokal itu terus menyebar (menular) ke daerah-daerah lain disekitarnya melalui simpul tali kekerabatan serta jaringan alumni pondok pesantren yang berakar di Durenan. Tradisi Lebaran Ketupat, yang ditandai dengan acara informal berbagai kupat atau ketupat memang bukan monopoli masyarakat Durenan. Di berbagai daerah lain, bahkan komunitas muslim diluar Jawa juga ada tradisi berbagi ketupat antar warga muslim.

Bedanya yang mungkin tidak ditemukan adalah proses penyelenggaraan yang dilakukan secara komunal atau massal serta ritualnya yang mirip-mirip hari pertama perayaan Idul Fitri. Ada ritual shalat dhuha berjamaah di masjid-masjid pada pagi hari, sesaat setelah matahari beranjak di ufuk timur yang menyerupai shalat Id, sebelum dilanjutkan tradisi saling anjang sana antar warga, kerabat dan sesama muslim setempat dengan berbagi hidangan makanan kupat atau ketupat plus sayur secara gratis.

Dulu, menurut pengasuh Ponpes Babul Ulum, Durenan KH Fattah Muin, tradisi kupatan hanya berlaku di lingkungan keluarga kakeknya yang dikenali sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Durenan-Trenggalek, KH Abdul Mashir atau Mbah Mesir. Saat itu, tradisi santap kupat yang diperkenalkan Sunan Kalijaga dilakoni Mbah Mesir dengan mengundang santri dan warga sekitar sebagai bentuk syukur setelah menjalani ibadah puasa sunah Syawal selama enam hari berturut, mulai H+2 bulan Syawal atau sehari setelah Hari Raya Idul Fitri.

Dalam perjalanan waktu, sejak kebiasaan melakoni puasa syawal itu diajarkan Mbah Mesir sejak pertengahan abad 19 (Mbah Mesir meninggal pada 1861 Masehi) di lingkungan Ponpses Babul Ulum, Desa Durenan, tradisi itu menyebar di lingkungan pondok dan masyarakat sekitar. Hampir dua abad tradisi itu bertahan bahkan terus berkembang, kini nilai-nilai kearifan lokal itu menyebar hampir di semua desa di Kecamatan Durenan.

Kemasan Budaya Bahkan, dalam satu dasawarsa terakhir budaya kupatan juga digelar di beberapa titik lingkungan/desa di luar Durenan, seperti di Munjungan, Gandusari dan Kelurahan Kelutan Kabupaten Trenggalek, Boyolangu dan Jepun Kabupaten Tulungagung dan beberapa daerah lain. Esensi acaranya secara umum sama, yakni berbagi kupat atau ketupat secara gratis dengan sanak-famili, kerabat, serta warga sesama Muslim. Hanya, kemasan masing-masing lingkungan berbeda. Di Kelurahan Kelutan Trenggalek, misalnya, tradisi Lebaran Ketupat dibumbui aneka hiburan seni budaya seperti karnaval atau pawai ketupat, kesenian jaranan, seni tiban, barongsai hingga hiburan elekton dan musik dangdut.

Menurut warga, kemasan tambahan dalam perayaan Lebaran Ketupat sengaja dilakukan untuk menarik animo warga berkunjung ke kampung mereka. Dalihnya, kata Wakil Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin, adalah untuk memecah konsentrasi massa yang setiap Lebaran Ketupat membanjiri Kecamatan Durenan. Upaya itu berhasil. Lebaran Ketupat di wilayah Kelutan yang berada di pinggiran pusat Kota Trenggalek selalu ramai dan diklaim mampu mengurangi kepadatan pengunjung di Durenan yang selalu macet parah. Namun bumbu-bumbu acara yang dinilai tidak islami itu menuai pro-kontra.

Sebagian mengkritik aneka pegelaran seni seperti jaranan, tiban dan musik dangdut yang merusak pakem ajaran Islam, namun tak sedikit pula yang mendukung dengan alasan akulturasi budaya atau sekedar hiburan rakyat tanpa motif tertentu. “Di Durenan, tradisi asli ini akan kami pertahankan. Jadi warga yang datang ke sini (Durenan) niatnya hanya satu, yakni anjangsana dengan sanak-famili, kerabat atau sesama saudara muslim dalam rangka Lebaran Ketupat. Tidak ada motif lain seperti di daerah luar Durenan,” kata KH Abdul Fattah Muin.

Tradisi lain yang belakangan menjadi tren masyarakat adalah budaya melepas balon udara atau balon asap berbagai ukuran di berbagai pelosok desa. Tradisi tambahan ini sempat dilarang polisi dengan alasan membahayakan keamanan karena berisiko memicu kebakaran. Namun larangan yang belakangan diralat Kapolres Trenggalek AKBP Donny Adityawarman SH SIK MSi  dengan istilah imbauan itu akhirnya memicu pro-kontra masyarakat.

Sebagian mengkritik kebijakan tersebut karena dinilai berlebihan dan mengekang nilai budaya daerah, namun tak sedikit pula yang mendukung dengan pertimbangan keamanan. Tahun ini, Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan maupun daerah-daerah lain luar Durenan digelar tepat sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal. Suasananya tak banyak berubah dibanding perayaan Lebaran ketupat pada tahun-tahun sebelumnya, sangat ramai.

Source https://www.jatimtimes.com/ https://www.jatimtimes.com/baca/154952/20170702/195902/tradisi-kupatan-durenan-icon-wisata-religi-tahunan/
Comments
Loading...