Tradisi Kupatan Ala Warga Kendeng, Rembang

0 213

Tradisi Kupatan (ketupat) menjelang hari akhir perayaan Idul Fitri di masyarakat Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang kawasan Gunung Kendeng, hingga kini tetap terjaga. Berbagai ritual pertanda permintaan maaf kepada segala makhluk ciptaan Tuhan merupakan bentuk kearifan dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.

Makna Kupatan bagi masyarakat Desa Tegaldowo adalah bentuk permintaan maaf masyarakat terhadap segala makhluk hidup ciptaan Tuhan. Karena kita yang juga salah satu bagian makhluk hidup pasti tidak luput dari berbagai tindakan salah, baik disengaja maupun tidak pada makhluk lain. Ini mengandung makna kita harus mengintrospeksi diri agar lebih arif terhadap sesama makhluk.

Peringatan Kupatan yang digelar di desa ini biasanya dilakukan sejak hari keempat setelah peringatan hari raya Idul Fitri. Ritual kupatan diawali dengan upacara “Temu Beras Karo Banyu” (Bertemunya beras dengan air,red) di sumur Waru yang merupakan sumur tertua di desa setempat.

Di sumur tertua tersebut, beras yang hendak digunakan sebagai upacara Kupatan dibersihkan. Selanjutnya, beras yang sudah bersih dibawa beramai-ramai ke tempat lapang untuk dimasukkan ke dalam kupat, yakni anyaman daun muda dari pohon kelapa dan kemudian dimasak.

Prosesi pembersihan beras hingga memasak kupat juga diiringi gending dan kesenian tradisional yang berisi petuah tentang kehidupan. Prosesi berikutnya adalah kirab Kupat keliling kampung yang akan digelar pada keesokan hari. Kupat yang sudah dimasak akan dibentuk gunungan sebelum diarak dan dibagikan pada seluruh warga.

Jika ada sisa setelah dibagikan ke warga, akan kita bawa ke lapangan untuk kita makan bersama. Seperti biasanya di lapangan juga akan kita gelar berbagai kesenian tradisional. Dan Kupatan akan kita tutup dengan upacara Lamporan, yakni seluruh masyarakat membawa obor di malam hari ke lapangan.

Comments
Loading...