Tradisi Kirab Kebo Solo

0 286

Tradisi Kirab Kebo Solo

Ketika penanggalan kalander Jawa jatuh pada 1 suro,mulailah terlaksana para abdi dan cucuk lampah menggiring barisan kirab seperti biasa di Keraton Kasunanan Surakarta.  Bersama sang kebo bule dan pusaka nya,menjelang tengah malam Keraton Kasunanan Surakarta nampak sibuk. Para punggawa sedang berkumpul dan bersiap diri mengikuti ritual Keraton. Beberapa diantaranya terlihat khidmat berdoa. Kedua telapak tangannya mengatup dan mengucapkan beberapa doa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa dengan media kembang dan dupa di dalam kompleks istana.

Jarum jam hampir menunjuk pukul 00.00 WIB,suasan diluar keraton pun ramai dipadati orang. Ratusan abdi dalem kakung maupun putri yang sudah berjam-jam lalu berkumpul di dalam Keraton mulai beranjak keluar dari kompleks Keraton. Mereka menanti datangnya pergantian hari sebagai tanda waktu akan dimulainya ritual sakral nan mistis di malam satu suro, yakni Kirab Kebo Bule mengawal pusaka Keraton. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selalu menggelar ritual Kirab Kebo Bule keturunan Kyai Slamet. Ritual ini diselenggarakan untuk memohon berkah dan keselamatan serta sebagai wujud perayaan  menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang juga bertepatan dengan tahun baru Islam.

 

 

Kirab ini selalu dinanti para warga solo karena mendatangkan suatu keberkahan tertentu, Ritual Kebo Bule di malam satu suro ini diawali dengan doa oleh para abdi dalem di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seusai berdoa, para abdi dalem tersebut kemudian menyebar singkong dan taburan kembang tujuh rupa untuk menyambut kedatangan si Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu.

Ritual akan dimulai ketika si Kebo Bule hendak berjalan keluar kandang dengan sendirinya. apabila sang kerbau belum mau keluar kandang, maka dipastikan prosesi ritual belum dapat dimulai. Tak ada satupun abdi maupun sentono dalem Keraton Surakarta yang berani memaksa si kerbau berjalan, mengingat hewan tersebut ialah hewan dikeramatkan. Para punggawa Keraton tak memperlakukan sang kerbau keramat tersebut layaknya hewan biasa, malahan mereka memperlakukannya seperti seorang pangeran.

Setelah sang Kebo Bule keturunan Kyai Slamet datang di depan Kori Kemandungan Keraton, para abdi dalem pun menyambut dengan penuh penghormatan dengan gaya kejawen. Mereka bersungkeman di depan kerbau keramat, lalu mengalungkannya dengan rangakaian kembang melati dan kantil. Setelah itu sang kerbau dibiarkan memakan tebaran singkong di depan Kori Kemandungan Keraton.

Warga pun berdesakan untuk menyentuh kebo tersebut dengan harapan kebaikan yang dapat terjadi. Kemudian sekawanan Kebo Bule keramat tersebut berjalan sendirinya dari depan Kori Kemandungan dan keluar kompleks Keraton. Berjalannya sang kerbau keramat menandakan dimulainya prosesi kirab pusaka di malam satu suro. Dengan didampingi srati atau pawang kerbau berbaju putih, sebanyak empat ekor Kebo Bule keturunan Kyai Slamet mempimpin jalannya kirab di barisan paling depan.Kebo bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan oleh pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut adalah jenis kerbau albino yang memiliki corak kulit berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Persis seperti kulit orang-orang (bule) Eropa. Oleh sebab itu kerbau berkulit putih ini dikenal luas oleh masyarakat Kota Bengawan dengan sebutan Kebo Bule.

Kebo Bule tersebut merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo pada Sri Susuhanan Paku Buwono II saat masih bertahta di Keraton Kartasura, sekitar lima kilometer kearah barat dari Keraton sekarang yang berada di Kota Solo (dahulu bernama Desa Sala). Kerbau tersebut bukanlah kerbau biasa. Bahwa kebo tersebut merupakan kesenangan sultan.

Dahulu diceritakan bahwa ketika Sri Susuhunan Paku Buwono II sedang mencari lahan baru untuk dijadikan Keraton yang baru, beliau mempercayakannya pada Kebo Bule Kyai Slamet pemberian Bupati Ponorogo tersebut. Ketika itu, pusat pemerintahan masih berada di Keraton Kartasura. Akhirnya, sejumlah Kebo Bule Kyai Slamet dilepas dari kandang dan dibiarkan berjalan dengan diikuti para abdi dalem dari kejauhan. Saat sekawanan Kebo Bule itu berhenti di sebuah desa bernama Desa Sala, kemudian di lokasi tersebutlah Keraton yang baru akan dibangun. Saat ini desa tersebut menjadi Kota Solo dengan Keraton Kasunanan Surakarta sebagai istana kerajaannya.

Adapun penanggalan nya merupakan penghormatan Sultan Agung Hanyokrokusumo atas penanggalan saka dalam hindu dan perputaran matahari Kalender Jawa karya Sultan Agung ini mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan.Saat itu, masyarakat di tanah Jawa masih banyak yang mengikuti sistem penanggalan saka yang berbasis dari tradisi agama Hindu. Sultan Agung sebagai pemimpin Kerajaan Islam terbesar di Nusantara pada masa itu berusaha mengubah dan mengalihkan paham agama Hindu di Jawa menjadi agama Islam. Salah satu bentuk upaya Sultan Agung adalah mengubah kalender saka menjadi penanggalan Jawa yang mengadopsi penanggalan Qomariah atau penanggalan dalam kalender Islam yang berbasis pada perputaran Bulan. Uniknya, angka tahun Saka tetap digunakan dan diteruskan, tidak mengikuti perhitungan Hijriyah pada saat itu demi alasan kesinambungan peralihan Hindu menjadi Islam, sehingga tahun saat itu 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Hingga tahun 2017 ritual suro dan kebo bule ini terus ramai dipadati dan mengundang banyak minat warga local maupun non local.

Source Tradisi Kirab Kebo Solo maioloo
Comments
Loading...