Tradisi Khas yang Dihubungkan dengan Wujud Kebudayaan di Kampung Kuta

0 163

Beberapa ilmuwan seperti Talcott Parson (Sosiolog) dan Al Kroeber (Antropolog) menganjurkan untuk membedakan wujud kebudayaan secara tajam sebagai suatu sistem. Dimana wujud kebudayaan itu adalah sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola.

Demikian pula J.J. Honigmann dalam bukunya The Worl of Man (1959) membagi budaya dalam tiga wujud, yaitu: ideas, activities, and artifact. Sejalan dengan pikiran para ahli tersebut, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan itu dibagi atau digolongkan dalam tiga wujud, yaitu:

1) Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan.
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Pembahasan ini akan menjelaskan tentang wujud kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat jika dikaitkan dengan tradisi khas dan budaya Kampung Adat Kuta. Wujud kebudayaan yang pertama adalah ide atau gagasan. Contoh dari wujud kebudayaan sebagai suatu ide atau gagasan di Kampung Kuta adalah Upacara Adat Nyuguh dan Larangan-larangan.

Salah satu bentuk ide atau gagasan itu adalah larangan dalam pembangunan rumah yang mensyaratkan tidak boleh menggunakan bahan semen, melainkan hanya memakai bahan dari kayu dan bambu. Ide/gagasannya yaitu bahwa model bangunan seperti itu dapat melindungi penghuninya dari berbagai macam gangguan, seperti binatang buas. Juga alasan lainnya jika dilihat dari bentuknya yaitu rumah panggung yang terbuat dari bambu dan kayu itu tahan dari guncangan gempa. Apalagi, belakangan ini, sejumlah daerah di Tanah Air kerap dilanda gempa tektonik maupun vulkanik.


Wujud kebudayaan lainnya yakni praktik atau tingkah laku. Hal-hal yang berkaitan dengan wujud kebudayaan tersebut adalah tidak membangun rumah dengan atap genting, tidak mengubur jenazah di Kampung Kuta, tidak memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, tidak mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, dan tidak membuat sumur. Adapula contoh dari wujud kebudayaan yang kedua ini adalah sistem pengobatan tradisionalnya yang menggunakan bahan-bahan alami yang terdapat di kampungnya.

Wujud kebudayaan yang ketiga adalah materi atau produk budaya. Wujud yang terakhir ini disebut pula kebudayaan fisik. Diman wujud budaya ini hampir seluruhnya merupakan hasill fisik (aktivitas perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat). Sifatnya paling konkrit dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto yang berwujud besar ataupun kecil. Di dalam Kampung Kuta terdapat produk budaya seperti Saung Lisung atau Leuit, Bale Adat, dan Rumah Panggung.

Fungsi dari Saung Lisung atau Leuit adalah untuk menyimpan padi hasil dari masyarakat memanen padi di sawah. Sedangkan fungsi dari Bale Adat adalah tempat berkumpulnya ketua adat dan masyarakat dalam memusyawarahkan masalah yang ada. Dan rumah panggung adalah sebagai tempat tinggal masyarakat Kampung Kuta yang juga berfungsi untuk menahan dari gempa dan serangan makhluk buas.

Source https://dinatropika.wordpress.com/2010/02/10/tradisi-khas-kampung-kuta/ https://dinatropika.wordpress.com
Comments
Loading...