Tradisi ‘Jodangan’ di Makam Sunan Pandanaran, Bayat Klaten

0 291

Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran berada di Desa Paseban, Bayat, Klaten Kebesaran nama Sunan bayat ini yang juga akrab dengan sebutan Ki Ageng Pandanaran dapat dilihat dari beberapa upacara atau kegiatan yang digelar untuk memperingati jasa dan pengorbanannya. Salah satu diantaranya adalah tradisi Jodangan makam Sunan Bayat.

Tradisi Jodangan makam Sunan Bayat biasa digelar pada tanggal 27 RuwahJodangan sendiri adalah tradisi kenduri sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Hidangan-hidangan kenduri yang diolah warga itu diarak menuju makam dengan menggunakan jodang. Karena itu tradisi ini, disebut Jodangan.

Prosesi Jodangan biasa dimulai dari gapura pertama di kompleks pemakaman. Warga yang terdiri dari pedagang dan warga desa, kebanyakan ibu-ibu, berkumpul dan membawa berbagai jenis nasi tumpeng yang akan dipergunakan dalam upacara. Hidangan-hidangan itu nantinya akan dibawa naik menuju makam Sunan Bayat. Naik karena makam Sunan Bayat berada di puncak Gunung Cokro Kembang, Bukit Jabalkat.

Bersama iring-iringan tumpeng tadi terdapat dua warga laki-laki yang menandu jodang berisi tumpeng nasi gurih, inkung ayam, pisang, dan berbagai jenis uba rampe lainnya memimpin peserta kirab menuju Pendapa Broboyekso di atas bukit. Sesajian tadi kemudian akan diarak menaiki 250 anak tangga menuju makam Sunan Bayat.

Iring-iringan reog atau jathilan juga biasa dihadirkan saat tradisi Jodangan makam Sunan Bayat berlangsung. Hanya saja pertunjukan tradisional itu digelar setelah seluruh prosesi Jodangan atau sadranan selesai dilaksanakan.

Rombongan pembawa jodang nantinya akan berhenti di Pendopo Broboyekso untuk menggelar upacara slametan atau syukuran dan juga tahlilan. Setelah itu, para sesepuh akan menuju ke Gedong Intan dimana Sunan Bayat dimakamkan bersanding dengan makam kedua istrinya. Di dalam ruangan tertutup itu para sesepuh dan juru kunci akan menaburkan bunga ke masing-masing makam, makam Sunan Pandanaran dan kedua istrinya.

Dalam prosesi ini terdapat ritual unik dimana peziarah akan meraba dan mencari kembang kanthil yang ikut ditaburkan di atas makam Sunan Pandanaran. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan kembang kanthil maka rejeki mereka selanjutnya akan kemanthil (mengikuti – Jawa).

Selain seluruh prosesi jodangan yang dikemas dalam kegiatan Haul Agung atau peringatan wafat pada tanggal 27 Ruwah, tradisi ini masih menyimpan satu prosesi sakral yaitu pasang langse atau memasang penutup kain makam yang baru. Hanya saja, prosesi sakral ini biasa digelar pada hari yang berbeda sebelum digelarnya kirab jodang.

Source http://rahma.kebudayaanindonesia.xyz/2017/05/14/tradisi-jodangan-di-makam-sunan-pandanaran-bayat/ rahma.kebudayaanindonesia.xyz
Comments
Loading...