Tradisi Jawa Munggah Molo, Tasyakuran Membangun Rumah

0 225

Tradisi Jawa Munggah Molo, Tasyakuran Membangun Rumah

Rumah (papan) merupakan salah satu dari tiga kebutuhan primer manusia, kebutuhan primer lainnya adalah Sandang dan pangan. Dalam salah satu pepatah mengatakan bahwa Rumahku adalah Istanaku. Oleh sebab itu sekiranya perlu memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan rezeki.

Rasa syukur ini dalam adat Jawa di wujudkan dalam bentuk upacara adat munggah molo. Upacara Adat Munggah Molo merupakan salah satu yang ada dalam tradisi Jawa atau tradisi nenek moyang yang dalam era millenium ini menjadi salah satu khasanah budaya yang ada di nusantara.

Tradisi ini dilakukan ketika seseorang dalam proses membangun rumah, lebih tepat waktunya ketika menaikkan kerangka atap rumah (Molo) untuk penyangga genteng. Rincian acara adat ini dilaksanakan ketika pagi hari dengan berbagai syarat yang tersaji atau dalam adat jawa disebut sesajen (sesaji).

Semuanya memiliki filosofi tersendiri di antara sesaji tersebut; Gedhang setandan (pisang yang banyak). Dimaksudkan agar terbinalah kekompakan dan harmonisasi diantara keluarga dan masyarakat sekitar. Tebu yang di cabut dari pangkalnya bermaksud agar keluarga beristiqamah dalam melakukan kebaikan layaknya pangkal tebu yang tegak menopang batang tebu.

Sewit Pari (satu ikat padi kuning) dimaksudkan agar keluarga dapat menggapai kejayaan dan kemakmuran akan tetapi semakin jaya semakin menunduk (tawadhu’) tidak sombong. Kelapa melambangkan agar keluarga menjadi kuat dan dapat bermanfaat untuk sesama (rahmatan lil ‘alamin).

Bendera merah putih menandakan nasionalisme. Koin (uang receh) sebagai modal untuk usaha, dada pasar (jajanan pasar) sebagai panjatan rasa syukur. Pakaian keluarga menandakan keluarga harus selalu menjaga akhlaqul karimah dengan menutup aurat, kendi, pakumas (paku warna emas).

Kayu salam dan daun salam mengharapkan keselamatan dari Allah SWT. Payung agar tuhan semesta alam dapat melindungi dengan rahmat Nya. Ayam panggang, dan pohon pisang. Setelah syarat-syarat tersebut sudah ada kemudian keluarga memanggil tokoh agama untuk mendo’akan dan memimpin prosesi adat tersebut, dan diakhiri makan bersama para tukang bangunan dan masyarakat sekitar.

Itulah tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat sekitar saya (Desa Pacar Kecamatan Tirto Pekalongan) dan di beberapa daerah nusantara umumnya. Beberapa keluarga dan tokoh yang saya wawancari mengatak bahwa tradisi ini bukan berarti melenceng dari syari’at Islam.

Karena sejatinya ini adalah ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, dan ini bentuk akulturasi Jawa dan Islam yang telah ada sejak dahulu. Semoga tradisi ini selalu berlanjut di era globalisasi.

Source https://www.kompasiana.com/ https://www.kompasiana.com/rhesaardy/59b6124f2d622c1d8743ffb2/tradisi-jawa-tasyakuran-membangun-rumah-munggah-molo
Comments
Loading...