Tradisi Haul atau Sedekah Bumi Gresik

0 50

Tradisi Haul atau Sedekah Bumi Gresik

Tradisi sedekah bumi Gresik yang hingga kini dilaksanakan secara rutin setiap tahun memiliki sejarah yang panjang. Tradisi ini berawal di sekitar tahun 1590 M atau pada masa akhir pemerintahan Sunan Prapen. Saat itu Sang Sunan membangun sebuah makam beserta cungkupnya untuk kakek beliau yang tidak lain adalah Sunan Giri. Dalam proses pembangunan ini, ia juga melaksanakan upacara penghormatan terhadap kakeknya, para leluhur, dan para wali atas usaha mereka melakukan perubahan ekonomi, sosial, dan budaya di Gresik.

Upacara penghormatan ini digelar dengan melihat kepada kebudayaan lokal. Suatu kebudayaan yang bernuansa agamis Hindu dan Buddha, yang merupakan kepercayaan masyarakat Gresik sebelum Islam datang kepada mereka. Upacara ini disebut haul, yakni acara memperingati hari kematian seseorang, baik orang biasa maupun seorang tokoh, yang diadakan tiap tahun pada hari wafatnya orang tersebut.

Menurut Mukhtar Jamil, seorang tokoh agama di Gresik, ada 3 alasan yang paling mendasar mengapa upacara ini digelar oleh Sunan Prapen.

Pertama, untuk mengembalikan wibawa Sunan Giri karena adanya serangan dari Kerajaan Majapahait. Setelah Sunan Giri wafat, pemerintahan digantikan oleh anaknya, yakni Sunan Dalem. Namun, baru tiga tahun memerintah, Sunan Dalem meninggal dunia. Hal ini membuat kondisi pemerintahan menjadi tidak stabil. Pemerintahan lalu digantikan oleh Sunan Prapen. Beliau ingin sekali mengembalikan kewibawaan nenek moyangnya melalui tradisi haul dengan tata cara mengungkap sejarah kakeknya. Kedua, untuk membangkitkan semangat ibadah. Ketiga, untuk membangkitkan semangat perjuangan dan kerukunan.

Tradisi haul yang kian berkembang hingga saat ini di Gresik, terutama di kelurahan Lumpur, didahului dengan mengadakan ziarah (nyekar) ke makam Sunan Giri, Sunan Prapen, dan sunan-sunan lain serta ke makam Ki Sindujoyo. Menurut penuturan warga terdapat dua makam Ki Sindujoyo yang satu berada di samping kanan luar makam Sunan Prapen dan yang satu terdapat di Desa Lumpur, Gresik.

Di  sekitar tahun 1965, tradisi haul ini berubah namanya menjadi Wayang Bumi atau disebut juga Sedekah Bumi. Terdapat mitologi tentang hal ini. Syahdan, terdapat Buyut Poleng yang tidak lain berasal dari ular-ular yang menjelma menjadi manusia. Ia muncul untuk menemui seseorang dan menyuruh penduduk mengadakan Wayang Bumi dengan maksud mengenang Sindujoyo.

Tradisi ini diadakan dengan menyerahkan hasil tangkapan ikan warga yang dilakukan secara suka rela dan bergotong royong kepada panitia Wayang Bumi (hal ini dapat dipahami pula karena Gresik memiliki pelabuhan yang merupakan jalur perdagangan baik tingkat nasional maupun internasional).

Prosesi Wayang Bumi diawali dengan menyembelih sapi di Balai Gedhe, kemudian melekan (tidak tidur di malam hari) di sana, wayangan, bandungan, tandaan tiga hari tiga malam dan mecah endhas. Namun, lantaran dalam tradisi ini terdapat kegiatan yang mengandung unsur maksiat, yaitu minum-minuman keras, maka para ulama pada waktu itu berusaha untuk meluruskan tradisi Wayang Bumi.

Dengan demikian, alur acara sedekah bumi ini lalu diubah. Pertama-tama semua warga melakukan nyekar (ziarah) ke makam Sunan Prapen dan makam Sindujoyo dengan berjalan kaki (pada saat sekarang menggunakan kendaraan). Malam harinya diadakan pembacaan macapat (pembacaan riwayat Sindujoyo).

Esok harinya diadakan mujahadah dengan membaca surah yasin dan tahlil, kadang dengan khataman al-Quran 30 juz yang dibaca seharian. Malamnya diadakan pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan terkadang diisi pengajian.

Hiburannya adalah hadrah atau kasidah, kemudian pencak macan (meski tidak selamanya hiburan-hiburan ini disertakan).

Source https://1001indonesia.net/ https://1001indonesia.net/tradisi-haul-atau-sedekah-bumi-gresik/
Comments
Loading...