Tradisi Grebek Maulud Surakarta

0 237

Tradisi Grebek Maulud Surakarta

Grebeg Mulud adalah salah satu acara rutin tiap tahun di Keraton Surakarta. Acara ini memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Pada moment ini akan dikirab Gunungan Tumpeng Raksasa dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung Surakarta.

Pada hari itu ribuan warga Surakarta dan sekitarnya tumplek blek untuk ngalap berkah. Banyak yang berasal dari Sragen, Karanganyar, Wonogiri dan daerah-daerah lain yang lebih jauh. Dalam acara ini berkumpul semua abdi dalem Keraton Surakarta, juga kerabat keraton. Patut disayangkan, Gunungan Tumpeng raksasa yang seharusnya didoakan dulu di Masjid Agung, sebelum sempat doa dipanjatkan sudah menjadi rebutan warga yang ngalap berkah. Suasana sangat ramai dan situasi sangat sulit untuk mengabadikan moment tersebut mengingat banyaknya orang yang ada disana saling berdesak desakan.

Tatacara yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:

  1. Penyerahan kelengkapan “Jamasan Pusaka” atau minyak untuk membersihkan pusaka diterimakan kepada sesepuh Kadilangu (Ahli waris Sunan Kalijaga). Minyak diserahkan, yaitu lisah sepuh, lisah cendana dan kembang.
  2. Dikeluarkannya ajad dalem “Pareden” atau gunungan pada +/- jam 10.00 WIB. Tatacara yang dilaksanakan adalah seperti pada Grebeg Pasa

Dari ketiga jenis Grebeg tersebut, Grebeg Muludlah yang prospeknya cerah dan banyak mengundang para pengunjung, oleh karena itu akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut.

Setelah perayaan sekaten berlangsung 7 hari, maka tepat tanggal 12 Rabiulawal, yakni hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, diadakan upacara selamatan dengan sesaji “Gunungan” yang diselenggarakan oleh Sinuhun Paku Buwana. Puncak perayaan sekaten itu berbarengan dengan Grebeg Mulud Nabi, serta dipusatkan di Masjid Agung yang terletak di sebelah barat Alun-Alun utara.

Peresmian selamatan ini dimulai dengan pasewakan, Ingkang Sinuhun memerintahkan Pepatih Dalem untuk menyampaikan perintah kepada Kyai Penghulu Tapsiranom agar memimpin upacara selamatan Mulud Nabi Muhammad SAW serta membacakan doa seperlunya. Perjalanan rombongan pembawa sesaji “gunungan” dari Karaton serta didahului oleh tarian. Ini dilakukan oleh para Brahmana dengan maksud untuk menguji kesungguhan iman Pepatih dalem di dalam mengemban perintah Ingkang Sinuhun. Kalau dalam menjalankan tugas tertawa itu tandanya masih bisa tergoda.

Source Tradisi Grebek Maulud Surakarta Solo The Sprit Of Java
Comments
Loading...