Tradisi Grebeg Ngenep

0 96

Grebeg Ngenep

Desa Ngenep berada di sebelah tenggara kota Wonosari, kurang lebih 15 kilometer dari ibukota Kabupaten Gunung Kidulitu. Desa yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian ini mempunyai enam wilayah pedusunan, yaitu Sembuku, Mojo, Pomahan, Kauman, Nogosari, dan Karang Tengah. Nama desa Ngenep sekarang sudah tidak ada dan mengalami pemekaran menjadi enam dusun tersebut. Penduduk di daerah ini sangat menggantungkan hasil pada tegalan dan pekarangan. Mereka percaya juga bahwa hasil tani mereka dipelihara melalui kekuatan supranatural lewat upacara adat Grebeg Ngenep.

Menurut cerita, upacara Grebeg Ngenep mempunyai kaitan dengan upacara Grebeg yang dilakukan Kraton Kartasura. Sebutan grebeg itu sendiri sebenarnya memang sudah menunjukkan bahwa upacara tersebut berasal dari kraton. Hanya saja karena upacara adat ini di desa Dadapayu dan dilaksanakan di Dusun Ngenep, maka dikenal dengan sebutan upacara Grebeg Ngenep. Berawal dari kisah Ki Mentotruno yang mampu mengatasi banjir sungai Kedung Lumbu di Kraton Kartasura, dan Ki Mentotruno, yang kemudian menjadi Ki Mentokuasa, diperbolehkan mengadakan upacara grebeg di Ngenep.

Upacara Grebeg Ngenep menjadi tradisi yang selalu dilaksanakan setiap Jumat Wage (sesudah bulan Mulud). Upacara ini terpusat pada tokoh Ki Mentokuasa yang menjadi mitos “pengayom dan kesejahteraan” masyarakat desa. Pada dasarnya, upacara ini bertujuan untuk memule dan syukuran, karena hasil pertanian masyarakat dusun Ngenep berhasil dengan baik. Upacara grebeg adopsi dari Kraton Kartasura ini mempunyai makna:
– Menyatunya hubungan Raja dan Rakyatnya
– Legitimasi Ngenep sebagai desa yang mempunyai hubungan dengan Raja
– Untuk menghormati cikal bakal desa yaitu Ki Mentokuasa
– Berkah dan Sawab pasa Grebeg Kraton diyakini akan melimpah juga pada Grebeg Ngenep.

Upacara Grebeg Ngenep diawali dengan kegiatan merapikan pagar, membersihkan jalan dan tempat-tempat yang akan digunakan untuk upacara, khususnya Masjid Al Mutaqim. Pada hari Kamis Pon (siang hari) ada upacara memule wilujengan (slametan) untuk meminta berkah pangestu dari para leluhur supaya selamat, dengan menyembelih kambing. Pada hari itu juga setelah memule, para warga membuah tujuh sesaji di tempat-tempat angker “sing mbaureksa dusun dikaruhi ben dha ora ngganggu” (penunggu dusun didatangi agar tidak mengganggu).

Masing-masing dusun menyiapkan gunungan yang akan dikeluarkan pagi harinya, Jumat Wage. Gunungan yang dibuat bentuknya tidak baku, bahkan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Tahun 1960-an, gunungan berbentuk rumah kampung dawa, joglo atau limasan. Juga muncul bentuk hewan seperti harimau, sapi atau di tahun 1990-an, muncul bentuk tikus atau walang kadung.

Prosesi upacara dimulai sekitar pukul 14.30 WIB dentan tanda bunyi bendhe warisan. Gunungan diambil di setiap dusun dengan dikawal prajurit-prajurit (8-14 orang) dari anak-keturunan Ki Mentokuasa. Gunungan pertama diambil dari dusun Karang Tengah, Sembuku, Pomahan, Nogosari, dan dusun Mojo. Dari dusun terakhir ini, para prajurit juga membawa weton pantu atau pari kancingan yang kemudian diletakkan pada gunungan sebagai simbol pasok glondong pangarem-arem (tanda kesetiaan rakyat pada raja). Untaian padi ini menjadi pusat perhatian masyarakat yang ingin ngalap berkahagar usaha taninya berhasil.

Rangkaian sesaji upacara Grebeg Ngenep adalah:
a. Sesaji buangan Panjang Ilang, tumpeng kecil dengan lauk pauknya, takir berisi tembakau, sirih, gambir, bir dan uang receh,
b. Sesaji dalam loyang kayu (tenong), berisi kembang menyan, tembakau, sisir, pengilon, rokok, suri, jambe, dua asbak berisi jagung goreng dan jamur gajih,
c. Sesaji dalam bakul nasi, berisi sayur gulai kambing satu mangkuk, kendhi berisi air dingin, 9 buah panjang ilang berisi kepala kambing, tiga panjang ilang berisi nasi tumpeng beserta lauknya, satu panjang ilang berisi jadah dan panggang ayam,

Sedangkan di dalam gunungan, terdapat sesaji berisi nasi wuduk ingkung, nasi dengan lauk pauk yang ditempatkan dalam baskom. Dalam Pasren, terdapat sesaji berisi pisang ayu setangkep, raja lumut, tumpeng weton, tumpeng memule jumlahnya 14 atau 7 jodho yaitu tumpeng lancip 7 jodo, tumpeng gilingan 7 jodo, ulam ayam 7 takir, tawon 1 takir, jangan kelor, yang kesemuanya harus ditangani oleh anak-keturunan Ki Mentokuasa.

Gunungan-gunungan tersebut kemudian diarak menuju ke pusat upacara di Masjid Al Mutaqim, Nogosari, bersama dengan sepasang pengantin yang mengenakan busana seperti raja dan permaisuri yang dibawa dengan tandu. Dibawa juga bersama iringan, seperangkat benda pusaka seperti bende, song-song jene, baju gondil, udheng gilig, dan tombak dari Kraton Kartasura.

Kenduri yang dihadiri seluruh warga menjadi acara inti. Seusai kenduri, warga diperbolehkan mengambil nasi kenduren untuk dimakan bersama-sama. Kemudian semua gunungan dibawa kembali ke masing-masing dusun. Pada malam harinya, diadakan pentas wayang kulit dengan cerita selain kisah Brantayudha. Hal yang khusus dalam setiap wayangan adalah akhir cerita selalu diisi cerita Hyang Sri Sadono, tokoh mitos sebagai sumber padi, lazimnya dikenal sebagai Dewi Sri. Kadang juga diadakan pertandingan sepakbola persahabatan antar desa.

Source https://www.gudeg.net https://www.gudeg.net/direktori/325/grebeg-ngenep.html
Comments
Loading...