Tradisi Grebeg Kupat Di Magelang

0 7

Tradisi Grebeg Kupat Di Magelang

Idul Fitri tidak terlepas dari simbol ketupat. Ketupat bagi masyarakat Jawa disebut sebagai kupat. Kupat berasal dari tembung kerata basa, ngaku lepat. Maknanya adalah mengaku bersalah. Kupat juga dapat diartikan laku papat, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Orang yang mengaku bersalah dan banyak dosa senantiasa akan beribadah kepada Allah SWT. Akan memegang teguh ajaran dan amalan agama Islam. Akan senantiasa meningkatkan keimanannya. Akan selalu membersihkan diri dan berserah diri hanya kepada-Nya. Sehingga benar-benar mencapai derajat manusia taqwa yang berakhlakul karimah.

Bagi daerah se-wilayah Magelangan, maupun beberapa tempat yang lain, selain identik sebagai simbol Idul Fitri, kupat juga menjadi sajian kuliner yang khas. Magelang sendiri memiliki kupat tahu, atau terkadang disebut juga tahu kupat.

Kupat dikaitkan dengan lebaran sebagai menu sajian utama yang dipadukan dengan opor ayam dan disajikan sebagai menu suguhan lebaran. Di Magelang dan sekitarnya hal itu tidak begitu populer. Satu dua memang ada beberapa keluarga yang menyajikan kupat dan opor ayam. Dikarenakan jumlahnya tidak seberapa banyak, maka kupat dan opor ayam tidak bisa dikatakan identik sebagai simbolisasi lebaran di Magelang.

Salah satu gelaran Grebeg Kupat yang menyedot perhatian banyak kalangan adalah Grebeg Syawal di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Acara Grebeg Kupat diawali dengan penyelenggaraan halal bi halal warga Dusun Dawung dan kaum kerabat yang berkesempatan hadir.

Acara syawalan untuk saling mengikrarkan kesalahan dan kekhilafan sekaligus untuk saling bermaafan tersebut dilaksanakan di area Masjid Darussalam. Semenjak pagi hari hingga menjelang waktu Dzuhur. Gunungan kupat yang sudah dipersiapkan sebelumnya sudah terpajang dengan anggun di pelataran masjid.

Dengan pementasan tarian jaran kepang dan janthilan di lapangan utama dusun, selepas tengah hari, rangkaian acara Grebeg Kupat berlanjut. Setelah sambutan sepatah dua patah kata dari perwakilan panitia dan sesepuh dusun, barisan kirab yang terdiri atas para sesepuh, pamong, dan masyarakat luas bergerak menuju Masjid Darussalam. Sambil menanti kedatangan gunungan kupat, penonton disuguhi dengan tarian buto gedruk.

Sekitar setengah jam berlalu, datanglah kirab gunungan kupat yang diusung dan diarak dari Masjid Darussalam. Cucuk lampah atau bagian terdepan barisan kirab dipimpin oleh seorang panglima pasukan yang membawa sapu lidi.

Sapu lidi yang disibakkan ke kanan dan kiri oleh panglima tersebut merupakan simbolisasi agar segala halangan dan aral yang melintang di tengah jalan maupun mengganggu jalannya Grebeg Kupat dapat disingkirkan bahkan disirnakan.

Selepas gunungan kupat tiba di lapangan utama, sejurus kemudian salah seorang tetua dusunmemberikan wejangan mengenai makna maupun maksud penyelenggaraan Grebeg Kupat di tempat tersebut. Pada intinya acara grebeg dijadikan sarana berkumpul warga dusun sekalian untuk sekaligus saling bermaafan seiring dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Setelah wejangan selesai, tibalah saatnya acara Grebeg Kupat dipuncaki. Dengan aba-aba dari pimpinan pamong pemerintah dusun setempat, gunungan yang terdiri atas ratusan kupatsegera dikerubut dan direbutkan oleh segenap warga yang hadir. Lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, bahkan para kakek-nenek dengan penuh semangat menggrebeg gunungankupat setinggi lebih dari 4 meter tersebut.

Agar kupat yang digrebeg tidak mubazir, panitia menyiasati kupat yang dipasang pada gunungan kupat tersebut hanyalah kupat kosong. Kupat yang tidak diisi dengan beras dan dikukus. Kupat tersebut justru diisi dengan urang recehan dua ribuan, lima ribuan, hingga puluhan ribuan. Bahkan beberapa diantaranya diisi dengan vocer makan bakso atau mie ayam gratis.

Meskipun acara inti dari Grebeg Kupat yang digelar adalah grebeg gunungan kupat, namun rangkaian acara keseluruhan berlangsung hingga malam hari. Di sesi malam selepas Isya’ masih dipentaskan seni topeng ireng, janthilan kuda lumping dan sendra tari.

Source http://pendekartidar.org/ http://pendekartidar.org/grebeg-kupat-ala-magelangan.php

Leave A Reply

Your email address will not be published.