Tradisi Gentong Haji di Cirebon

0 48

Sukacita menyambut sanak keluarga yang akan melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci dirayakan dengan segentong air minum oleh seisi rumah. Hal tersebut merupakan ucapan syukur dan harapan agar mereka yang beribadah diberi kemudahan serta kembali dengan selamat.

Tradisi menyiapkan gentong di halaman rumah ini jamak dilakukan masyarakat Kota Cirebon, Jawa Barat, salah satunya adalah Desa Pangkalan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Lazim disebut tradisi gentong haji oleh masyarakat sekitar.

“Adanya gentong haji di depan rumah untuk menunjukkan bahwa salah satu keluarga sedang berangkat haji. Tradisi seperti ini sudah dijalankan turun-temurun dan setiap tahun bila ada yang berangkat haji. Niatnya untuk bersedekah,” ujar Uniah, salah satu warga.

Selain menyiapkan gentong tersebut, pihak keluarga juga menggelar pengajian dengan tujuan agar anggota keluarga yang beribadah di tanah suci mendapatkan kelancaran.

Gentong berisi air minum tujuannya untuk menjadi pelepas dahaga bagi siapa pun yang melintas di depan rumah. Ada juga warga yang menggunakan air dalam gentong tersebut untuk membasuh wajah sambil melepas lelah.

Gentong digunakan selama masa ibadah haji. Lalu, sat jamaah haji pulang, gentong itu akan dipindahkan.

“Biasanya setelah pulang gentongnya ya dipindahkan, kemudian jamaah haji mengadakan selamatan,” ujar Setrum, warga lainya seperti dinukil Radar Cirebon.

Dalam menyiapkan gentong haji, maka gentong yang sudah diisi air akan didoakan dalam sebuah acara pengajian malam sebelumnya.

Lalu, gentong diletakkan di bagian depan atau halaman teras rumah agar mudah dilihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang.

Gentong tersebut tertutup rapat tudung saji dari anyaman bambu bagian atas dan ditemani cibuk atau alat untuk mengambil air menyerupai gayung, terbuat dari batok kelapa. Kemudian, ada pula beberapa buah gelas untuk minum air orang yang melintas di depan rumah.

Bagi masyarakat di daerah Pantura, tradisi ini lazim dilakukan dan mengandung filosofi tersendiri. Gentong berisi air tersebut dilambangkan sebagai suasana sejuk dan menyegarkan, sehingga terkandung harapan agar sanak saudara yang menjalankan ibadah haji merasakan hal yang sama.

Selain itu, dengan mengambil air di dalam gentong tersebut, diharapkan juga ikut mendapat berkah dan suatu saat dapat berkesempatan melaksanakan ibadah di Tanah Suci.

Tradisi lain yang identik dengan gentong haji adalah pengajian yang dilakukan oleh keluarga besar dan juga para tetangga.

Pengajian surat Yasin itu diadakan sejak jemaah haji berangkat ke Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air. Doa-doa dipanjatkan agar jemaah haji khusyuk menjalani ibadahnya. Selain itu, diharapkan menjadi haji yang mabrur saat kembali ke kampung halaman.

Beberapa daerah lain di sekitar Cirebon melakukan tradisi tawurji. Tradisi ini mirip dengan malam Halloween di Amerika, tetapi di praktikan dengan cara yang berbeda.

Tawurji itu sendiri berasal dari dua suku kata yaitu tawur dan ji. Makna kata tawur diartikan sebagai melemparkan sesuatu, sedangkan kata ji berasal dari kata haji atau kaji (sebutan lain untuk orang yang telah menunaikan ibadah haji di Cirebon).

Tradisi ini dimulai pada malam Rabu terakhir bulan Sapar dalam kalender Hijriah. Saat itu anak -anak kecil akan berkeliling kampung selepas sholat magrib, hingga azan isya dengan menggunakan peci dan sarung dan membawa obor.

Biasanya sambil berkeliling, anak-anak tersebut akan berdiri di depan rumah dan akan menyanyikan tembang yang berbunyi “wur-tawur ji tawur, selamat dawa umur”. Dalam Bahasa Indonesia tembang tersebut kurang lebih memiliki makna “lemparkan ji (haji) lemparkan , selamat panjang umur”.

Kata lemparkan di sini yang dimaksud adalah memberikan uang kecil atau permen atau apapun dalam bentuk sedekah pada anak-anak tersebut.

Menurut tim peneliti Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, banyak tradisi unik yang dilakukan di berbagai tempat di Indonesia menyambut datangnya musim ibadah haji.

Salah satunya seperti yang diterapkan oleh masyarakat Deli Serdang, melaksanakan ritual tepung tawar. Tradisi ini memiliki tujuan untuk menolak malapetaka dan kesialan, sekaligus sebagai acara pamit dan mohon doa dari calon jemaah haji yang akan menunaikan ibadah.

Menurut penelitian yang dilakukan dalam tahun 2017 ini juga menemukan tradisi di Jawa Barat seperti tradisi wewalat di Karawang, membawa kain kafan, dan melepaskan burung merpati di Kabupaten Indramayu, berjalan kaki melewati makam Ki Raja Pandita di Cirebon.

Ritual tradisional ibadah haji lainnya juga ditemukan di Banjar (Kalimantan), Lebak (Banten), Kudus (Jawa Tengah), Lombok NTB, dan Gresik (Jawa Timur).

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/lebih-dekat-dengan-tradisi-gentong-haji-di-cirebon
Comments
Loading...