Tradisi Entas Entas Malang

0 60

Tradisi Entas Entas Malang

Entas-entas merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Tengger di Malang. Tepatnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo, Malang yang mayoritas beragama Hindu.

Tradisi ini diadakan untuk acara kematian. Dimana entas-entas sendiri diartikan gambaran dari meluhurkan atau mengangkat derajat leluhur yang sudah meninggal agar mendapat tempat yang lebih baik di alam arwah. Dengan kata lain adalah untuk menyucikan roh dari leluhur yang sudah meninggal.

Layaknya tradisi-tradisi lainnya, pastilah terdapat suatu rangkaian kegiatan di dalamnya. Di dalam Entas-entas terdapat urutan yaitu ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan. Saat pelaksanaan yang meninggal didatangkan kembali dengan bentuk boneka. Boneka yang diberi nama boneka petra tersebut terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka petra tersebut selanjutnya disucikan oleh pemangku adat setempat.

Sebelumnya juga dibuat kulak atau wadah bambu yang diisi dengan beras oleh keluarga yang bersangkutan. Kulak tersebut sebagai lambang dari yang meninggal tersebut. Selanjutnya, keluarga mulai menyiapkan kain panjang untuk dibentangkan. Dimana para keluarga dan kerabat berkumpul di bawahnya untuk mulai membakar boneka petra.

Dalam upacara tradisi tersebut, dijumpai adanya hewan-hewan seperti kambing, kerbau, atau lembu. Salah satu dari hewan yang ada tersebut adalah kambing berwarna putih. Disini, kambing tersebut berperan sebagai kendaraan untuk menuju alam arwah.

Rangkaian pelaksanaan Entas-entas ini tidak hanya berlangsung dalam satu hari saja, tetapi selama kurang lebih tiga bulan. Biasanya dilaksanakan pada hari yang ke-1.000 atau minimal pada hari ke-44 setelah meninggal. Hingga akhirnya berakhir seminggu sebelum Entas-entas benar-benar dilaksanakan. Oleh karena itu, Entas-entas masih boleh dilakukan selang beberapa hari setelah kematian. Sebab, kesanggupan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Makna yang terdapat dalam Entas-entas ini yaitu untuk  mengembalikan kembali unsur-unsur penyusun tubuh manusia. Unsur-unsur tersebut ialah tanah, kayu, air, dan panas. Makna yang diambil dari tanah yaitu setiap ada manusia yang meninggal akan dikubur di dalam tanah. Selanjutnya adalah kayu. Sebab, untuk menandai lokasi orang meninggal menggunakan kayu yang ditancap bahkan ditanam sebagai nisan.

Lalu ada air. Dimana air digunakan untuk memandikan yang meninggal. Dengan kata lain sebagai pembersih. Juga sekaligus sebagai penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air.

Kemudian ada bapak, ibu, dan Pangeran pemberi kehidupan. Untuk mengembalikannya dengan memberi tiga ikatan pada yang meninggal. Terakhir ada panas. Untuk mengembalikan unsur yang satu ini caranya adalah dengan dibakar. Dimana boneka petra yang sudah dibuat tadi akan dibakar. Cara pengembalian unsur panas ini hampir sama dengan upacara Ngaben di Bali. Namun, bedanya adalah jika di Entas-entas hanya membakar boneka petranya saja.

Jika ditelaah lebih lanjut, tradisi Entas-entas ini memiliki keterkaitan dengan budaya pada masa Megalitikum. Dimana yang dimaksud adalah pada budaya untuk memuja roh nenek moyang. Tradisi seperti ini sakral untuk dilakukan. Sehingga perlu kefokusan penuh saat melaksanakannya. Jika tidak begitu atau terjadi kesalahan, maka masyarakat percaya bahwa akan ada musibah yang menimpa keluarga yang meninggal.

Source Tradisi Entas Entas Malang Ngalam.co
Comments
Loading...