Tradisi Cupu Kyai Panjolo Gunung Kidul

0 203

Tradisi Cupu Kyai Panjolo Gunung Kidul

Warga Padukuhan Mendak, Girisekar, Panggang, Gunung Kidul punya tradisi membuka pusaka Cupu Kyai Panjolo setiap malam Selasa Kliwon Mangsa Kapapat. Pengunjung yang datang bukan hanya dari Gunungkidul. Ada juga warga luar Bumi Handayani. Mereka tumpah ruah memadati halaman dan rumah Dwijo Sumarto yang berbentuk limasan. Dwijo adalah ahli waris keturunan ke-6 Eyang Seyeg, sang pemilik Cupu Kyai Panjolo.

Cupu adalah benda berbentuk guci yang terbungkus kain kafan. Benda sakral ini dipercaya mampu memprediksi kejadian setahun ke depan. Ada tiga buah guci yang disimpan dalam kotak kayu berukuran lebar 35 cm, panjang 20 cm, dan tinggi 15 cm.

Masing-masing cupu memiliki nama. Semar Kinandu adalah cupu terbesar. Selanjutnya Kalang Kinantang, dan paling kecil Kenthiwiri. Selama ini ketiga cupu yang disimpan di rumah Dwijo Sumarto diperkirakan telah berusia lebih dari 500 tahun. Kain kafan pembungkus cupu itulah yang dibuka setiap tahun sebagai sebuah tradisi turun-temurun. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 01. 30 saat tradisi membuka cupu dimulai oleh sesepuh trah Eyang Seyeg.

Di setiap lapis kain mori ada simbol atau gambar yang kemudian diumumkan kepada warga di lokasi. Malam itu, simbol yang muncul di antaranya, bintang tujuh segitiga di sisi utara. Lalu di sebelah barat berupa wayang Betara Guru. Di selatan ada gambar titik tiga segitiga, dan bagian timur muncul  gambar darah mengering.

“Meski tanda-tanda berbentuk simbol bercak, gambar yang muncul pada kain kafan dipercaya sebagai ramalan kejadian satu tahun kedepan. Prediksi tersebut awalnya hanya untuk kondisi pertanian. Namun seiring perkembangan zaman berunah menjadi situasi nasional maupun daerah secara lebih umum.

Source Tradisi Cupu Kyai Panjolo Gunung Kidul Radar Jogja
Comments
Loading...