Tradisi Congkogan, Tradisi dari Yogyakarta

0 57

Pada sore harinya sekitar pukul 15.00-16.00 dilakukan upacara congkogan. Penyelenggaraan upacara congkogan adalah sebagai berikut:


• Orangtua yang dicongkogi berdiri di tengah halaman dikelilingi anak, cucu, cicit.
• Anak-anaknya nyongkog (menyangga) berdirinya orangtua dengan menggunakan tebu wulung. Anak yang mencongkog berjumlah paling sedikit empat orang. Empat orang anak tersebut masing-masing nyongkog di depan, belakang, samping kiri, dan samping kanan.
• Bila berdirinya orangtua dirasa sudah cukup mapan/kuat, maka para penyongkog yang merupakan anak-anaknya tersebut mundur untuk menuju tempat di depan orangtua sehingga antara anak dan orangtua berdiri berhadap-hadapan.
• Pada saat berhadapan ini orangtua memberikan berkahnya kepada anak-anaknya. Pemberian berkah ini bisa dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti pemberian nasehat, pemberian semangat hidup, atau bahkan berupa suatu anggukan kecil kepada anak-anaknya.
• Bila acara pemberian berkah orangtua kepada anak-anaknya sudah selesai, maka upacara dianggap selesai.
• Bila anak-anaknya sudah meninggal, bisa digantikan oleh cucu yang sudah menginjak dewasa.
Makna dari upacara congkogan ini adalah suatu perumpamaan bahwa orang yang sudah tua (berumur 64 tahun) biasanya sudah tidak dapat hidup mandiri karena fisiknya sudah mulai melemah, ingatan dan panca indranya juga berkurang kekuatan fungsinya. Maka kehidupan selanjutnya orangtua itu perlu kasengkuyung (dibantu) anak cucunya. Tebu wulung yang digunakan dalam upacara congkogan merupakan lambang bahwa kehidupannya selalu dengan kemantapan hati dan pasrah kepada Pangeran sebagai Penguasa Jagad Raya.

Source https://3jawakers.wordpress.com/2013/12/12/siklus-hidup-manusia-jawa-ketika-masa-tua-upacara-tumbuk-ageng/ 3jawakers.wordpress.com
Comments
Loading...