budayajawa.id

Tradisi Cembengan di Kota Sragen

0 107

Tradisi Cembengan di Kota Sragen

Di Pulau Jawa terdapat tradisi tahunan yang dilaksanakan menjelang musim giling tebu dan hampir setiap pabrik gula di Jawa yang merupakan peninggalan dari kolonial Belanda. Tradisi yang dilaksanakan pabrik gula ini disebut dengan Tradisi Cembengan. Di kota Sragen, Tradisi Cembengan ini dilaksanakan di Pabrik Gula Mojo yang terletak di Kabupaten Sragen, tepatnya di desa Mojo, Sragen Kulon, berada di sebelah Pasar Bunder Sragen.

Tradisi ini dilaksanakan untuk mengucap rasa syukur atas hasil panen tebu yang melimpah dan juga merupakan do’a agar proses penggilingan tebu di Pabrik Gula Mojo dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun. Cembengan sendiri berasal dari kata Ching Bing yaitu ritual khas Tionghoa yang bertujuan untuk mendo’akan roh nenek moyang. Istilah ini diperkenalkan oleh para pekerja kasar dari Cina yang dipekerjakan di pabrik-pabrik tebu milik pemerintah Hindia-Belanda. Para pekerja itulah yang pertama kali membawa tradisi Ching Bing tersebut sebagai ritual sebelum musim giling tebu dilaksanakan. Akan tetapi masyarakat lokal menyebut tradisi ini dengan istilah Ching Bing-an yang kemudian popular dengan istilah Cembengan karena kesulitan melafalkan kata Ching Bing.

Tradisi Cembengan dilaksanakan satu tahun sekali biasanya pada bulan April atau Mei dan dilaksanakan di area pabrik Mojo. Prosesi Cembengan sendiri terdiri dari beberapa tahap, yaitu: pertama ziarah ke makam mbah Paleh dan Mbah Krandah yang bertujuan agar arwah atau roh-roh leluhur di sekitar pabrik dapat tenang dan tidak mengganggu dalam proses penggilingan tebu yang akan dilaksanakan. Kedua, adalah prosesi pemetikan tebu temanten. Tebu temanten terdiri dari tebu lanang (laki-laki) dan tebu wedhok perempuan. Setelah tebu dipetik, tebu temanten tersebut diletakkan di kantor tebang angkut yang terletak di kompleks area pabrik gula Mojo.

Setelah uborampe peralatan upacara selamatan lengkap, dipanjatkan do’a bersama yang dipimpin oleh seorang modin dengan niat agar diberikan keberhasilan sehingga memperoleh keuntungan dan keselamatan. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan memasukkan tebu temanten ke penggilingan. Hal ini menandakan bahwa musim giling di Pabrik Gula Mojo telah dimulai. Setelah prosesi ini selesai, dimulailah tahap ketigadalam Tradisi Cembengan ini, yaitu acara syukuran dan ramah tamah yang dikemas dalam acara hiburan.

Setiap tahapan dalam Tradisi Cembengan memiliki makna simbolis yang mengandung nilai-nilai luhur. Tradisi Cembengan memiliki nilai religious yang mengajarkan kita untuk senantiasa berdo’a sebelum melakukan suatu kegiatan. Kemudian terdapat sikap kerjasama, gotong-royong, semangat kebersamaan, saling berbagi, dan toleransi dalam Tradisi Cembengan tercermin saat karyawan pabrik melaksanakan prosesi upacara. Pesta rakyat yang digelar di sekitar pabrik gula selama perayaan Cembengan adalah upaya untuk mempererat hubungan antara Pabrik Gula dengan masyarakat yang tinggal di sekitar area pabrik.

Walaupun tidak semua warga mencari nafkah di pabrik gula atau perkebunannya, dengan pesta rakyat tersebut diharapkan bahwa berkah adanya pabrik gula bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Dapat dikatakan bahwa pesta rakyat pada Tadisi Cembengan ini sebagai program cara berhubungan dengan masyarakat yang sangat cerdas yang lahir dari leluhur terdahulu. Para pengusaha gula dari masa-masa dahulu telah memberikan warisan sebuah pelajaran penting bahwa diman kehadiran pabrik gula haruslah tidak hanya berbuah manis bagi pemilik dan karyawannya, tapi manisnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum disekitarnya.

Source Tradisi Cembengan di Kota Sragen Anismunandziroh
Comments
Loading...