Tradisi Budaya Sambatan Gunung Kidul

0 212

Tradisi Budaya Sambatan Gunung Kidul

Gunungkidul  begitu banyak menyimpan warisan budaya dan tradisi leluhur yang adiluhung. Mulai dari ritual adat semacam rasulan, nyadran hingga kesenian tradisional dan budaya sosial kemasyarakatan seperti sambatan.

Tradisi merupakan budaya sosial di masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Era modernitas seharusnya tidak melunturkan nilai-nilai tradisi yang kental dengan kearifan lokal tersebut namun justru kita dituntut untuk terus menjaga dan melestarikannya.

Budaya sambatan warisan budaya sosial di masyarakat Gunungkidul pada khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya yang telah ada sejak jaman dahulu kala. Sambatan berasal dari kata sambat yang secara harfiah berarti mengeluh. Sambatan adalah kegiatan gotong royong  antar warga dalam rangka membantu sesama yang sedang tertimpa musibah atau sedang melakukan pekerjaan besar seperti membangun rumah, hajatan, panen dan lain-lain.

Budaya sambatan lebih banyak ditemukan di kampung atau desa-desa yang masih mempunyai rasa kekeluargaan dan etika sosial yang tinggi.  Rasa ‘ewuh pakewuh’ dalam kehidupan masyarakat Jawa menjadi salah satu faktor budaya membantu dalam falsafah sambatan masih tetap ada.

Sambatan tidak mengandung nilai materi tertentu.  Rasa kekeluargaan sebagai dasar melakukan pekerjaan sosial dengan bergotong-royong membantu sesamanya. Dalam contoh kasus; misalnya si A berencana membangun rumah baru maka secara otomatis para tetangga akan berduyun-duyun datang membantu membangun rumah tersebut tanpa mengharapkan upah sebagai imbalan pekerjaanya.

Jaman sudah berubah. Era kapitalisme tidak saja merubah perilaku masyarakat perkotaan namun menular hingga ke masyarakat pedesaan. Pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan harus diukur dengan sejumlah nilai materi atau uang.

Pesatnya perkembangan globalisasi dan teknologi informasi yang ’menjajah’ sampai ke pelosok kampung menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah untuk tetap menjaga warisan tradisi sambatan agar tetap eksis di masyarakat.

Tidak menyangkal jika perkembangan teknologi juga memberikan perubahan positif bagi manusia.  Namun tentunya kita juga harus ingat bahwa dibelakangnya ada dampak negatif yang lebih besar jika kita tidak siap menerimanya. Masyarakat menyiapkan filter yang kuat untuk menyaring hal-hal yang berpengaruh buruk. Serta bertentangan dengan tradisi dan kearifan lokal di masyarakat.

Source http://gdhe.web.id/ http://gdhe.web.id/budaya-sambatan-dan-grebuhan-kearifan-lokal-masyarakat-gunungkidul-yang-makin-memudar/
Comments
Loading...