Tradisi Buang Ayam Atau Bebek di Tegal

0 70

Tradisi Buang Ayam Atau Bebek di Tegal

Tradisi ini dilaksanakan setelah prosesi Ijab Qabul pernikahan. Namun tradisi ini dikhususkan bagi calon mempelai yang rumahnya dibatasi oleh sungai yang agak besar. Jadi ketika iring-iringan calon pengantin tersebut melewati jembatan, diwajibkan membawa sepasang bebek atau ayam untuk dibuang. Menurut kepercayaan setempat, apabila tidak melaksanakan tradisi tersebut, bisa dipastikan kedua pengantin tersebut bakal celaka.

Pada jaman dahulu, dibuang dalam artian adalah bebek / ayam tersebut dijadikan semacam tumbal agar terbebas dari celaka. Sehingga bebek / ayam yang dilempar tersebut akan hanyut dan mati terbawa arus sungai. Namun kini seiiring dengan berjalannya waktu, prosesi “pembuangan” tersebut tidak sepenuhnya dibuang, namun nanti diperebutkan oleh anak-anak yang sudah menunggu di bawah jembatan. Setiap pengantin membawa bebek / ayam satu persatu, dan dalam hitungan ketiga, hewan tersebut dilemparkan dan dijadikan rebutan.

Suasana di bawah jembatan menjadi riuh ramai oleh anak- anak yang saling berebut. Biasanya, hasil tangkapannya pun nanti dimasak untuk disantap bersama-sama dengan anak- anak yang lainnya.Tradisi yang awalnya sebagai penolak bala, kini berubah menjadi sedekah. Karena biasanya anak-anak yang berebut hewan tersebut adalah dari golongan yang kurang mampu. Untuk lebih meramaikan acara, kedua hewan tersebut biasanya dihias yaitu diberi pita agar menarik perhatian.

Tradisi ini masih dilakukan oleh desa yang dilewati oleh sungai besar dan lokasinya terbilang jauh dari jalan utama. DFaerah yang tercatat masih melakukan tradisi ini adalah di Larangan (Kramat), seputaran Pagiyanten (Adiwerna), Sindang (Dukuhwaru), dan beberapa daerah lainnya.

Source https://infotegal.com https://infotegal.com/2013/05/tradisi-buang-ayam-atau-bebek-di-tegal/

Leave A Reply

Your email address will not be published.