Tradisi Boyongan Nganjuk

0 298

Tradisi Boyongan Nganjuk

tradisi Boyongan yang dilakukan oleh pemrintah Kabupaten Nganjuk meliputi beberapa serangkaian acara  dimulai dari bebrapa ritual, yang dilakukan oleh sesepuh di kecamaten Berbek. kemudian dilanjutkan dengan proses boyongan tersebut. Kegiatan ini dimulai pada pagi hari, yaitu persiapan peserta kirab, peserta dikumpulkan di lapangan alun-alun kecamatan Berbek, untuk kemudian pendataan kepasa satiap pearta. Setalah kesamuannya siap dilanjutkan ke acara pelepasan. Prosesi boyongan yang dilakukan setiap tahun ini, mulai pukul 08.00 dari berbek menuju alun-alun Nganjuk yang memiliki jarak sekitar 10 Km.

Pada saat berlangsungnya kirap tersebut, biasanya pasar Berbek yang juga dilewati oleh rute boyongan tersebut ditutup semntara waktu, untuk kelancaran jalan prosesi. Dalam tradisi ini, peserta Boyongan sendiri terdiri dari Bupati dan para staf dan pejabat pemrintahan kabupaten Ngajnuk. Selain dari pemerintah daerah,pejabat setingkat kecamatdi wilayah kabupaten Nganjuk juga berpartisipasi dalam acara tersebut.

Beberapa lapisan masyarakat salah satunya para seniman yang juga turut berpartisipasi dalam acara ini. Pertunjukan yang dilakukan dalam acara ini adalah para peserta memakai akaian khas tradisional jawa, selain itu juga menampilkan beberap pertunjukan yang menarik lainnya. Dalam prosesinya, yang menjadi pembuka dan ada dibarisan terdap dalam acara Boyongan ini adalah Bupati yang saat ini menjabat, juga mengendarai kereta kencana kemudian disusun oleh wakil bupati, dilanjuktkan oleh beberapa staf atau kedinasan yang terdapat di kabupaten Nganjuk, samapi pada staf setingkat kecamatan dan desa. Setelah itu disusun oleh masyarat yang ingin berpartisipasi dalam, acara ini. Dalam acara ini terdapat tarian tarian yang mengeringi prosesi Boyongan tersebut. Diantara tari tarian tersebut adalah :

Tari Mung Dhe

Sejarah tari Mung Dhe (tarian Perang) yang tidak dapat dilepaskan dalam peristiwa perang Diuponegoro tahun 1825-1830, yang menuai kegagalan dari pasukan tersebut, dampak dari kegagalan tersebut adalah para pengikut atau prajurit yang lari ke jawa timur. Penciptaan tarian ini juga digunakan dalam mengumpulkan prajurit Diponegoro.  Dengan gerakan yang sigap dan baris berbaris dengan adegan-adegan peperangan tari ini merupakan tari yang syarat akan nilai perjuangan, tari ini secara keseluruhan jumlah pemainnya terdiri dari 14 orang pemain. 2 orang berperan sebagai prajurit, 2 orang membawa bendera, 2 orang botoh dan 8 orang pemain music dan pengiring. Dalam hal tata busana, para pemain tari Mung Dhe mengguanakan makeup yang mempertegas aksen dan peran mereka masing-masing, seperti mempertebal alis, kumis dan jawas.  Tari ini mengiringi dalam prosesi boyongan yang berlangsung dari kecamatan Berbek sampai kabupaten Nganjuk. Untuk pemeran botoh, mengguanakn Topeng, dalam tradisinya botoh berfunsi sebagai penyemangat saat peperangan. Ada dua botoh, yaitu pethul yang menyemangati pihak yang menang, sedangkan temben meruapak penyemangat pihak yang kalah dalam perang tersebut.

Selain tarian khas dari kabupaten Nganjuk yaitu Mung Dhe, acara yang dilakukan dalam boyongan tersebut juga membawa beberapa sesaji yang telah dipersiapkan. Sesaji tersebut beruap tumpeng yang dilengkapi juga dengan panganan tradisional. Tumpeng ini buat oleh setiap kecamatan yang akan mengikuti prosesi boyongan. Selanjutnya tumpeng ini akan diarak samapi pada tempat berakirya rute boyongan yaitu di alun-alun kota nganjuk, tumpeng tersebut kemudian menjadi rebutan masyarakat yang telah menunggu dan mengharapkan berkas dari tradisi ini. Dalam sesaji berupa tumpeng ini, karena setiap pembawanya adalah dari setiap kecamatan yang ikut dalam porsesi boyongan, kita juga dapat melihat cirri khas dari tumpeng tersebut yang biasanya di hias dengan barang ataupun benda yang menjadi ciri dari setiap kecamatan tersebut. Acara terakir ditutup oleh masuknya bupati ke dalam pendopo kabupaten setelah menyerakhan pusaka yang dibawa yaitu pusaka payung nogo yang nantinya akan diserahkan kepada sesepuh di kabupaten tersebut.

Acara dalam tradisi boyongan di kabupaten Nganjuk ini memiliki makna dalam setiap prosesi yang dilakuaknnya, baik dari ritual yang digunakan sampai pada elemen elemen dalam prosesi tersebut. Dalam acara ini kita dapat melihat, bahwa kegiatan selain sebagai sarana hiburan oleh masyarakat, juga sebagai upaya pemerintah dalam hal ini pemrintah Kabupaten Nganjuk, untuk semakin dekat dengan rakyatnya, dengan melakukan kirap ini, para pejabat juga dapat memantau secara langsung kondisi masyarakat di daearah ini, dengan melihat keadaan mereka yang melihat acara boyongan ini dari pinggir jalan. Selain hal tersebut makna yang dapat terlihat dari tradisi ini adalah masyarakat dapat bersuka cita, dan menikmati makanan yang telah didapat dalam pengambilan berkah, sehingga mencerminkan masyarakat yang memilki semangant gotong royong. Tarian perang  ( mungdhe ) juga menjadi salah satu bagian dari prosesi boyongan tersebut. Hal tersebut dapat menyiratkan kepada masyarakat Nganjuk bahwa mereka tidak boleh melupakan jasa-jasa pahlawan yang telah gugur mempertahan tanah air, yang gigih melawan penjajahan kolonial.

Dari barisan acara tersebut terlihat bahwa Bupati berada pada tempat terdepan, sehingga dapat dilihat bahwa hal tersebut merupakan sebuah simbol dari kekuasaan raja-raja di mataram, selain itu peran bupati merupakan sebuah pencitraan seorang raja, sehingga Bupati menempati posisi yang utama dalam sebuah pemerintahan. Kedatangan bupati di dalam pendopo kabupaten disambut dengan tarian jurit. Setelah itu terdapat penyerahan benda pusaka dalam prosesi terakir dalam tardisi boyongan adalah meneyerahkan benda pusaka yaitu payung nogo kepada sesepuh di kabupaten Nganjuk, hal tersebut secara simbolis menyiratkan masih diakuinya sebuah benda yang memilki nilai mistis, sehingga benda tersbut dikeramatkan.

Dalam tradisi boyongan tersebut, banayak elemen masyarakat dari beberapa golongan berbaur untuk melihat acara tersebut. Dari orang tua sampai yang muda. Untuk golongan pemuda maupun anak-anak, apabila dalam acara ini tidak bertepatan dengan hari libur, umumnya menurut pandangan penulis banyak anak-anaka sekolah dasar yang tidak mengadakan keoiatan pembelajaran pada saat itu. Biasanya para guru mewajibkan anak-anak tersebut melihat acara tersebut. Hal tersebut merukan sebuah upaya yang dilakuakn oleh dinas pendidikan untuk mengenalkan kebudayaan di Nganjuk, sehingga dapat memupuk rasa cinta terhadap kebudayaan setempat, yang juga menjadi indentitas kedaerahan bagi genegrasi muda.

Acara ini juga  mempunyai peluang sebagai aset pariswisa di Kabupaten Nganjuk, dimana prosesi ini tidak di semua tempat dapat mengadakannya, karena Nganjuk memiliki sejarah yang khas dalam terbentuknya sebuah pemrintahan sekarang ini. Prosesi dapat menjelaskan bagaiaman tradisi semacam ini masih dipertahan di daearah ini, mengingat perubahan perubahan yang terdapat di beberap wilayah kota di Indonesia yang umumnya sudah banyak meninggalkan tradisi yang semakin giat dengan moderbitas, dan menghilangkan nilai-nilai budaya dalam perkembangannya. Dengan diadakannnya acara tersebut setiap tahun, pemerintah kabupaten Nganjuk juga dapat meningkatkan jumlah wisatawan asing baik, domistik maupun mancanegara, untuk berkunjung di Nganjuk. Sehingga nantinya potens-poptensi di wilayah kabupaten Nganjuk dapat dimninati oleh masyarakt secara luas.

Source Tradisi Boyongan Nganjuk Sejarah Tempat Kita Berangkat dan Pulang
Comments
Loading...