Tradisi Baratan Jepara Jawa Tengah

0 32

Tradisi Baratan

Tradisi Baratan adalah tradisi yang berasal dari Jepara Jawa Tengah. Bertempat di Desa Kriyan, Kalinyamat Jepara, tradisi ini dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban. Dimana. Tradisi ini selalu dilakukan setiap tahun sebelum puasa dimulai. Dalam tradisi Baratan ini dilakukan arak-arakan dengan sosok pahlawan asal Jepara,Ratu Kalinyamat. Asal muasal tradisi ini sendiri adalah memperingati beberapa penamaan desa desa ketika Sultan Hadlirin, Suami Ratu Kalinyamat dibunuh secara sadis oleh pembunuh bayaran Arya Penangsang dalam usahanya menuntut keadilan. Sepanjang perjalanan jenazah Sultan Hadlirin dibawa yang menjadi awal mula penamaan desa desa yang diperingati dengan tradisi baratan ini.

Tradisi Baratan ini utamanya juga untuk mempersiapkan diri dalam menyambut bulan suci ramadhan. Selain itu dalam tradisi ini juga disajikan beberapa sajian khas yang hanya dapat ditemukan di tradisi ini, beberapa diantarannya adalah,

  • Bongko Ceblok sebuah makanan berbahan tepung beras, garam, santan, dan gula jawa didalamnya yang mengandung filosofi bahwa . Proses pembuatannya dengan mencampur semua kecuali gula jawa, lalu diuleni sampai kesat kemudian dimasukan kedalam daun pisang, didalamnya dimasukkan atau di ceblok gula jawa kemudian dikukus kurang lebih satu jam.. Filososi dari bongko ceblok menyimbolkan siklus hidup manusia dari mulai diberi nyawa hingga kembali ke sang pencipta. Secara detail filosofinya berupa, tepung beras yang berwarna putih diambarkan sebagai tubuh manusia, gula jawa digambarkan sebagai rah atau darah, dalam arti keseluruhan adalah tubuh manusia di cebloke atau ditaruh roh manusia yang fitrah, kemudian bungkus daun disimbolkan sebagai kain kafan atau kematian.
  • Puli terbuat dari bahan beras, ketan dan bleng yaitu campuran garam mineral dengan konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional Jawa seperti karak dan gender. Proses pembuatannya yaitu dengan cara  dikukus kemudian ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa parut yang dibakar atau tanpa dibakar. Kata puli konon berasal dari bahasa Arab yaitu afwu lii, yang berarti maafkanlah aku. Filosofi dari puli ini dimaksudkan untuk memberi tauladan bagi setiap manusia, supaya sadar diri dan melakukan tobat Nasuha atau tobat yang sesungguhnya, dengan tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya

Dalam tradisi ini para warga biasanya membawa lampion atau dalam bahasa jawa “impes” yang mengingat asal muasal tradisi baratan, ketika warga memberi penerangan pada jenazah Sultan Hadliri, suami Ratu Kalinyamat. Dalam tradisi ini yang menarik terdapat teatrikal Ratu Kalinyamat dengan cerita yang berbeda setiap tahunnya. Tradisi ini sendiri pada tahun 2006 mendapatkan penghargaan MURI sebagai pembawa lampion terbanyak di Indonesia.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Tradisi-Baratan/
Comments
Loading...