Tradisi Bakda Kupat Kampung Pandeyan Yogyakarta

0 40

Tradisi Bakda Kupat Kampung Pandeyan Yogyakarta

Bakda Kupat Kampung Pandeyan merupakan tradisi budaya yang diselenggarakan Kampung Wisata Pandeyan Yogyakarta. Tradisi ini pertama kali diselenggarakan sejak tahun 2010 dan rutin diselenggarakan seminggu setelah Idul Fitri pada bulan Syawal pada penanggalan Islam.

Penyenggaraan tradisi untuk memperkuat citra Kampung Pandeyan sebagai kampung wisata dan mengangkat kembali tradisi yang dibawa oleh wali penyebar agama Islam di tanah Jawa. Lokasi Kampung Wisata Pandeyan berada di sebelah utara bekas Terminal Umbulharjo Yogyakarta yang sekarang menjadi XT Square.

Rute menuju ke kampung ini dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta ke arah timur cukup dengan mengikuti papan petunjuk arah menuju XT Square Yogyakarta. Pengunjung yang ingin menonton kirab dapat memarkir kendaraan di dalam area parkir XT Square agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.

Kirab Budaya Bakda Kupat Kampung Pandeyan ini disebut juga Kirab 1000 ketupat. Karena sekitar 1000 ketupat disusun dalam dua buah gunungan yang terdiri dari satu gunungan kakung (laki) dan satu gunungan wadon (wanita).

Sekitar separuh ketupat yang ada diisi uang kertas agar menarik minat pengunjung untuk ikut memperebutkannya. Bentuk gunungan yang dibuat mengikuti filosofi gunungan yang dibuat oleh Kraton Yogyakarta dalam menyelenggarakan Tradisi Grebeg Gunungan.

Kirab Budaya Bakda Ketupat Kampung Pandeyan dimeriahkan oleh barisan prajurit yang berasal dari Kampung Pandeyan yaitu Bregada Kalinyamat, kesenian tradisional, dan drum band anak. Beberapa kampung yang ada sekitar Kampung juag turut berpartisipasi.

Seperti Kampung Gambiran, Kampung Warungboto, dan sebagainya. Selain yang disebutkan diatas ada juga kelompok lintas agama, barisan prajurit bregada (Bregada Lombok Abang dan Bregada Lombok Ijo, drum band sekolah, dan kesenian barongsai.

Kirab Budaya Bakda Kupat Kampung Pandeyan dimulai dari pertigaan utara XT Square. Rute kirab dari XT Square ke utara melewati Jalan Pandeyan – Jalan Babaran – Jalan Batikan – Jalan Veteran. Kemudian melewati lagi Jalan Pandeyan menuju lokasi finish ke halaman Masjid Ibrahim Kampung Pandeyan. Jarak perjalan sekitar 3 kilometer dengan waktu tempat sekitar setengah jam.

Acara “rayahan” atau berebut gunungan ketupat Kirab Budaya Bakda Kupat Kampung Pandeyan berlangsung di depan halaman Masjid Ibrahim Pandeyan. Sebelum diperebutkan, kedua gunungan didoakan terlebih dahulu oleh orang yang dituakan di Kampung Pandeyan di halaman Masjid Ibrahim.

Setelah didoakan, pengunjung dan peserta kirab saling berebut ketupat dalam gunungan. Pada beberapa ketupat terdapat uang kertas mulai dari pecahan 1000 rupiah hingga 50.000 ribu rupiah. Kirab Budaya Bakda Kupat Kampung Pandeyan ditutup dengan acara makan opor ketupat dan sambal goreng. Disajikan untuk para pengunjung yang hadir di halaman masjid tersebut.

Secara keseluruhan Kirab Budaya Bakda Kupat Kampung Pandeyan bukan tradisi yang turun menurun diselenggarakan. Seperti halnya tradisi kraton atu tradisi yang dibawa oleh wali penyebar agama. Penyelenggaraannya dapat dikatakan meniru tradisi bakda ketupat atau bakda kupat di daerah lain yang turun temurun diselenggarakan.

Meski demikian penyelenggaraannya tetap beresensi pada tradisi yang dibawa oleh para wali yaitu dengan simbol kupat atau ketupat. Tradisi Bakda Ketupat Kampung Pandeyan ini rutin diselenggarakan setiap tahun untuk memperkuat eksistensi kampung Pandeyan sebagai kampung wisata di Yogyakarta.

Keberadaannya dapat menjadi salah satu daya tarik wisata dan agenda budaya di bulan Syawal atau dalam rangka memperingati Idul Fitri. Selain tradisi Oblok-Oblok Masjid Gedhe Kauman, tradisi Grebeg Syawal yang diselenggarakan oleh Kraton Yogyakarta, dan tradisi bulan Syawal lain di sekitar Yogyakarta.

Source https://teamtouring.net/ https://teamtouring.net/bakda-kupat-kampung-pandeyan-yogyakarta.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.