Tradisi Asrah Batin

0 49

Asrah Batin

Tradisi asrah batin kembali digelar warga dua desa di Kecamatan Kedungjati. Yakni, warga Desa Ngombak dan Karanglangu.
Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu dilangsungkan setiap dua tahun sekali. Biasanya, tradisi ini dilangsungkan pada hari Minggu Kliwon di Bulan September. Namun, untuk tahun ini pelaksanaannya dimundurkan karena September masih bersamaan dengan Bulan Muharam.
Setiap digelar, tradisi ini selalu dipadati ribuan orang. Selain warga dari dua desa, banyak orang dari luar daerah yang antusias menyaksikan jalannya tradisi ini.
Tradisi ini dilakukan dengan adanya kunjungan Kepala Desa Karanglangu bersama ratusan warganya menuju Desa Ngombak. Kunjungan dilakukan dengan menyeberangi Sungai Tuntang yang memisahkan kedua desa tersebut.
Kades Karanglangu Agus Slamet beserta istri menaiki rakit beralas karpet yang dihias dengan janur, dan bendera merah putih. Meski arus sungai saat itu cukup deras prosesi penyeberangan berjalan lancar.
“Proses penyeberangan kali ini dilakukan pakai rakit dan perahu karet karena arus sungai cukup deras. Kalau pas sungainya dangkal, biasanya nyeberangnya naik kuda,”
Di seberang sungai, rombongan disambut Kepala Desa Ngombak Kartini didampingi suami, perangkat desa dan ribuan warga. Selanjutnya, rombongan dari dua desa dibawa menuju ke rumah Kades Ngombak untuk beramah-tamah.
Dalam acara ramah-tamah ini juga dilangsungkan tradisi pembagian Badek (air tape) dan Boreh (serbuk bedak). Pembagian sajian ini berlangsung meriah dan terkadang warga saling berebutan untuk mendapatkannya.
Kepala Desa Karanglangu Agus Slamet mengatakan, tradisi tersebut dilangsungkan untuk memperingati pertemuan kembali dua saudara kembar berlainan jenis (Kedono-Kedini) yang terpisah sejak kecil. Yakni, Raden Bagus Sutejo dan Raden Ayu Mursiyah.“Dua bersaudara ini tinggalnya terpisah. Raden Sutejo di Karanglangu dan RA Mursiyah di Ngombak,”
Semasa hidupnya, dua orang itu sempat mengalami sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan sekaligus menggembirakan. Saat keduanya yang juga merupakan sepasang kekasih itu akhirnya gagal membangun mahligai perkawinan. Sebab, dua orang keturunan bangsawan itu ternyata masih saudara kandung yang sudah bertahun-tahun berpisah.
Akhirnya kedua sejoli itupun mengurungkan niatnya untuk membangun mahligai rumah tangga. Namun, mengingat segala sesuatunya sudah dipersiapkan untuk pesta pernikahan, Raden Sutejo pada hari pernikahan yang sudah ditentukan tetap hadir ke rumah Raden Ayu Mursiyah di Desa Ngombak. Lengkap dengan makanan dan hadiah yang sedianya akan diberikan dalam pesta pernikahan.
Tetapi kedatangan itu bukan untuk melangsungkan pernikahan seperti yang sudah direncanakan. Tetapi sebagai wujud kegembiraan karena keduanya sudah bisa dipertemukan kembali oleh Yang Maha Kuasa setelah lama berpisah. Dan sebagai wujud kegembiraan, dalam pertemuan itu digelar pula pesta ronggeng yang meriah.
“Untuk mengenang kegagalan membina perkawinan itulah diperingati dalam sebuah upacara adat Asrah Batin ini. Di sisi lain, peringatan Asrah Batin ini sekaligus sebagai ungkapan kegembiraan bertemunya dua saudara kandung yang sudah lama berpisah,” imbuh Suprojo, salah seorang warga setempat.
Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/3-Asrah-Batin/
Comments
Loading...