Tradisi Apitan, Tradisi Rasa Syukur bagi Masyarakat Demak

0 56

Tradisi Apitan, Tradisi Rasa Syukur bagi Masyarakat Demak

Tradisi apitan atau lebih dikenal dengan istilah sedekah bumi mungkin bagi kalangan masyarakat jawa adalah hal yang lumrah dan biasa, dikarenakan ritual tersebut jamak dilakukan setiap tahun, tepatnya dibulan Apit dalam kalender aboge, atau bertepatan dengan bulan dzulqo’dah dalam penanggalan hijriyah. Tidak jelas siapa yang memulai tradisi ini, namun diyakini mulai dikenalkan pada masa penyebaran Islam di Tanah Jawa oleh para Wali Sembilan sekitar 500 tahun yang lampau.

Dengan memodifikasi tradisi hindu yang telah ada sebelumnya, para wali memasukkan unsur religius keislaman pada setiap budaya tanpa menghapus sisi eksotik dan estetika itu sendiri. Hal ini tergolong manjur dan efektif sehingga para masyarakat jawa berbondong-bondong mengikrarkan diri untuk memeluk islam.  Kembali ke apitan atau sedekah bumi memiliki makna yang sangat dalam yakni sebagai wujud ungkapan syukur warga terhadap nikmat yang telah diberikan tuhan YME. 

Makna filosofisnya adalah manusia tercipta dari tanah yang merupakan bagian dari unsur bumi, kemudian hidup juga di atas bumi, makan dan minum dari tetumbuhan juga makhluk yang mengkonsumsi unsur tanah, dan kelak saat manusia itu matupun akan kembali ke bumi. Sehingga perlu keselarasan dan harmoni antara manusia dengan bumi sebagai ruang yang ditinggali manusia itu sendiri. Sedekah bumi dan apitan menjadi sarana syukur terhadap limpahan nikmat atas hasil bumi, hasil panen masyarakat selama setahun ini. 

Tradisi Apitan di Salah satu desa di kabupaten Demak, dengan Khataman Al Quran. Umumnya tradisi apitan diisi dengan pagelaran wayang kulit, kethoprak dan kesenian yang lainnya. Tidak ada yang keliru. Hal ini sebagai bentuk pelestarian budaya jawa yang dimulai oleh Sunan Kalijaga kala berdakwah dengan Wayang kulitnya. 

Namun, ada yang berbeda dengan pelaksanaan apiran di dukuh demung wetan desa kerangkulon kecamatan wonosalam kabupaten Demak jawa tengah, apa pasal? Tradisi apitan diisi dengan khataman Al-Qur’an 30 juz dengan 2-3 kali pembacaan. Hal ini dilakukan agar berkah dan manfaat dari pembacaan al-quran melimpah terhadap warga desa. Lebih jauh, doa dan pengharapan dari masyarakat desa dengan adanya apitan sebetulnya adalah agar selamat di atas bumi maupun kala telah ada di dalam bumi kelak.

Isyarat dari ungkapan diatas adalah Kala manusia ingin selamat ketika hidup di dunia dan kelak saat sudah mati maka mereka tidak boleh meninggalkan sholat, karena sholat lima waktu sebagai kewajiban bagi orang islam yg akan menyelamatkan mereka, terlebih sholat yang dilakukan dengan berjamaah. Karena dengan berjamaah mengajarkan akan nilai-nilai kerukunan dengan tetangga dan sebagai sebuah gerakan bersatunya umat islam. 

Source https://www.kompasiana.com/ https://www.kompasiana.com/masamrin6414/5b692c276ddcae40b23718a3/tradisi-apitan-di-demak-perkawinan-budaya-dengan-islam
Comments
Loading...