Tradisi Angon Putu Di Temanggung

0 70

Tradisi Angon Putu Di Temanggung

Tradisi Angon Putu merupakan tradisi yang sudah lama ada di Temanggung. Tradisi ini ditandai dengan acara mengasuh anak, cucu, dan buyut di luar rumah dengan mengajak anak, cucu, dan buyut berekreasi di suatu tempat namun masih dalam lingkup Temanggung.

Tradisi ini sering dilaksanakan khususnya di alun-alun kota Temanggung. Tradisi angon putu ini adalah wujud silaturahmi antar anggota keluarga untuk membina kerukunan, kebersamaan. Sebagai ungkapan syukur orang tua telah diberi umur panjang, kesehatan dan rejeki yang melimpah.

Angon putu memang tradisi turun temurun dari nenek moyang. Dimana seseorang yang telah mencapai usia perkawinan lebih dari 50 tahun, telah memiliki anak, cucu, buyut bahkan sampai canggah. Apabila telah diberi kelebihan rejeki maka haruslah melakukan tradisi angon putu ini.

Diawali dengan semua persiapan dari rumah, berangkat dari rumah dengan beberapa mobil karena banyaknya anak cucu buyut yang diajak. Sebelum ke alun-alun biasanya orang yang melaksanakan tradisi ini selalu mampir terlebih dahulu di pasar daerah setempat, menggiring anak, cucu, dan buyutnya masuk kepasar untuk membeli bekal perjalanan ke Temanggung.

Tidak lupa untuk sarana ritual angon putu ini mereka membeli uborampe Kembang Boreh. Terdiri dari bunga mawar, bunga melati, bunga kanthil, bunga kenanga dan boreh yang berupa adonan kapur dan kunyit. Ini merupakan prosesi awal tradisi angon putu.

Perjalananpun berlanjut ke Temanggung, tujuannya ke alun-alun kota. Maka sesampai di tempat tujuan rombongan keluarga besar yang sedang melaksanakan tradisi itu menghambur menuju taman kota. Sementara sang kakek dan neneknya berjalan paling belakang sambil membawa pecut. Sebagaimana layaknya orang angon (mengembala), pecut atau cambuk yang dibawa bukannya untuk memecut anak-cucu, melainkan hanya simbol angon saja.

Begitu masuk di alun-alunpun mereka berkumpul sebentar di bawah pohon beringin. Untuk melakukan ritual angon putu. Satu persatu para anak-cucu menghadap, sang kakek lalu menorehkan boreh di kening masing-masing, baik anak, cucu dan buyut. Setelah ritual borehan, anak, cucu dan buyut dilepas untuk bermain dan membeli jajanan apa saja yang ada di alun-alun itu.

Tradisi angon putu inipun disambut dengan suka-cita oleh para pedagang makanan yang berada di alun-alun, sebuah kesempatan yang tak diduga sebelumnya. Tiba-tiba saja siang itu para pedagang kebanjiran pembeli. Tak terkecuali para penjual jasa penyewaan mainan seperti mobil-mobilan, becak mini, kertera mini, tempat mandi bola dan arena bermain lainnya.

Sementara sang kakek cukup puas duduk-duduk di bangku taman, dan sang nenek tampak bahagia sekali, tersenyum  memandang semua anak-cucu bergembira menikmati rekreasi rame-rame itu. Di akhir ritual angon putu ini, sang kakek dan nenek akan menggelar pertunjukan Wayang Kulit selama dua malam.

Source https://3jawakers.wordpress.com/ https://3jawakers.wordpress.com/category/budaya-daerah/
Comments
Loading...