Tradisi Aneh Dan Unik Mepe Kasur Di Banyuwangi

0 34

Tradisi Aneh Dan Unik Mepe Kasur Di Banyuwangi

Indonesia adalah negara yang bersuku-suku, di setiap suku memiliki adat istiadat masing-masing yang kadang kala terlihat aneh di lihat dari masyarakat luar suku tersebut. Tradisi yang biasanya turun temurun dari nenek moyang itu biasanya mengandung simbol, harapan dan tujuan untuk warga di desa yang memiliki tradisi tersebut.

Seperti tradisi yang ada di kampung suku adat Using, desa Kemiren, Glagah Banyuwangiini. Warga di desa ini menjemur kasur bersamaan di pagi hari dan unik nya lagi kasur yang mereka jemur adalah mempunyai warna yang sama yaitu kombinasi warna merah dan hitam. Sepanjang pinggiran jalan di desa Kemiren ini terdapat kasur yang dijemur di depan rumah mereka, bagi pengunjung luar kota pemandangan ini akan terlihat unik karna tidak akan di temui di desa-desa lainnya.

Desa itu terlihat ramai dengan kegiatan warga melaksanakan tradisi “mepe kasur” (jemur kasur) yang merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap tahun untuk menyambut datangnya Idul Adha.

Ratusan warga yang didominasi oleh perempuan sibuk memukul-mukul kasur dengan pemukul yang terbuat dari anyaman rotan pada umumnya. Sepanjang kurang lebih 3 km pemandangan ini bisa dilihat oleh para pengguna jalan yang lewat di desa Kemiren Banyuwangi ini pagi kemarin.

Beginilah tradisi mepe kasur (jemur kasur) yang dilaksanakan oleh warga kampung adat Using, desa Kemiren ini. Mereka sangat antusias melaksanakannya.

Ada mitos yang tersimpan di dalam tradisi ini, kombinasi warna merah dan hitam adalah wujud pelestarian warisan nenek moyang, yang notabene adalah sebuah pengharapan. Warna merah artinya berani dan hitam artinya langgeng atau abadi.

Bulan haji di kampung ini identik dengan pernikahan yang dilaksanakan oleh warga desanya dengan alasan itulah tradisi jemur kasur adalah sebagai permohonan kepada yang Maha Esa agar pernikahan mereka langgeng hingga kakek-kakek dan nenek-nenek, juga sebuah ungkapan kasih sayang yang tulus sebagai seorang suami istri. Supaya tidak ada gangguan apapun dan saling setia.

Mitos dari tradisi di suku Using, Kemiren, Glagah, Banyuwangi ini adalah setiap pengantin baru, mempelai wanita dari suku using tersebut harus membawa kasur yang warnanya adalah kombinasi merah dan hitam dan memakainya untuk alas tidur kedua mempelai. Mereka meyakini jika warna kasur yang dipakai untuk alas tidur bukan warna merah dan hitam mereka akan terkena bencana.

Selain untuk menguri-uri (melestarikan) budaya leluhur tradisi jemur kasur ini juga diartikan sebagai nasehat untuk selalu berpola hidup bersih. Dengan menjemur kasur kutu kasur bisa hilang. Itu adalah nasehat yang bagus tapi sayangnya dengan kemajuan jaman kasur dengan kombinasi warna merah dan hitam ini semakin menyusut di kampung adat Using, desa Kemiren, kecamatan Glagah Banyuwangi ini.

Source http://uniquenewss.com/ http://uniquenewss.com/tradisi-aneh-dan-unique-mepe-kasur-di-banyuwangi/

Leave A Reply

Your email address will not be published.