Tradisi Adat Piton-Piton Masyarakat Desa Ngetos Nganjuk

0 279

Tradisi Adat Piton-Piton Masyarakat Desa Ngetos Nganjuk

Tradisi Adat Jawa Piton-Piton menginjak bubur (tujuh warna), menaiki tangga dari tebu, dimasukkan kurungan, dimandinkan air sritaman (air yang ada beberapa bunga didalamnya), dan didandani (diberikan pakain) dengan pakaian yang bagus yang dilaksanakan pada siang hari dengan mengundang anak-anak.), ketika si anak berusia 7 selapan atau 245 hari, masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat seperti yang dilakukan oleh sebuah keluarga di Desa Ngetos, Nganjuk ketika mempunyai anak pada umur 245 hari atau 8 bulanan.

Berhubungan dengan tradisi Piton-Piton tersebut kemudian sore harinya mengundang para tetangga yang berusia dewasa dengan acara Srokalan yaitu pembacaan Sholawat Nabi dan Maulid al Barzanji. bertepatan dengan srokalan tersebut dilakukan pemotongan sebagian rambut si anak, Kekahan (meng-aqiqoh-i) anak, menebar beras kuning, kembang mawar, dan uang logam, doa, dan shodaqoh pada anak-anak atau orang yang hadir selama dilakukannya pembacaan sholawat dan al-barzanji dengan diiringi alat musik rebana tersebut.

Dalam tradisi adat Jawa piton-piton yang dianggap masih banyak mengandung makna simbolis yang luhur sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat ini bertujuan untuk mengharapkan  si anak nantinya menjadi insan yang sukses, bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Dalam pelaksanaanya tradisi Piton-Piton tetap dipertahankan dengan nuansa Islami yang diaggap mengandung hikmah pelajaran bagi si anak, orang tuannya, para undangan, dan masyarakat. Anak adalah buah hati orang tuanya yang akan diasuh, didampingi, dan dibesarkan menjadi anak yang sholih atau sholihah.

Source http://baleloe.blogspot.co.id http://baleloe.blogspot.co.id/2014/01/budaya-dan-adat-masyarakat.html
Comments
Loading...