Totta’an Dara Kabupaten Bandawasa

0 166

Totta’an Dara Kabupaten Bandawasa

Suasana Permainan.

Siang hari sampai menjelang magrib, yaitu setelah pada umum­nya mereka selesai dengan pekerjaan di sawah atau pulang dari ber­jual beli di pasar, mereka membuat janji antara satu pedukuhan de­ngan pedukuhan lain untuk bersama-sama melepas burung dara atau burung merpati. Burung-burung itu dimasukkan dalam sebuah sang­kar semacam kotak kayu, lalu mereka bawa ke suatu tempat yang agak jauh dari tempat tinggal mereka. Dari tempat itu burung-burung itu pun dilepaskan. Tepuk tangan dan sorak sorai kegembiraan ter­dengar ketika itu, sehingga burung-burung itu terhalaukan setinggi- tinggi dan sejauh-jauhnya terbang. Bunyi “sawangan’, yaitu semacam pluit yang dipasang di atas ekor burung merpati, bersiutan karena kepak sayap dara. Suasana pun jadi riuh rendah, sehingga semakin jauh dan semakin tinggi burung-burung itu terbang untuk kemudian mencari rumah-rumah mereka.

Tetapi tidak selalu terjadi demikian. Karena terpikat oleh la­wan jenisnya, maka burung-burung itu sering tidak pulang ke rumah asalnya melainkan mengikuti pasangannya. Pemilik burung tentu akan senang sekali mendapatkan tambahan miliknya. Dan sudah menjadi kebiasaan bahwa yang kehilangan burung-burung­nya tak dapat menuntut apa-apa. Kini permainan bertambah ramai karena pedukuhan atau desa yang mendapatkan burung-burung pe­larian itu akan dinyatakan menang. Dan pesta kemenangan itu me­reka rayakan dengan memainkan seperangkat orkes Thongthong. Mereka tidak hanya bergembira ria di desanya tetapi dengan memain­kan alat-alat musik itu pula mereka beramai-ramai datang ke pedu­kuhan atau desa yang kalah, yaitu mereka yang kehilangan banyak burung-burung dara miliknya.

Peristiwa ini disebut   ‘N y a t a’.   Permainan musik thongthong itupun sendirinya disertai nyanyian-nya­nyian kegembiraan terdiri dari lagu-lagu tradisi ataupun lagu populer yang sedang digemari pada masanya. Pedukuhan yang kalah, dengan kedatangan para pemenang itu tentu saja merasa malu, namun tak dapat berbuat apa-apa kecuali menyembunyikan diri dalam rumah- rumah mereka sambil mengintip pemenang-pemenang itu. Sampai mereka puas dengan ‘ejekan mereka maka ketika matahari menjelang lenyap, rombongan pemenang itu pun kembali ke tempat asalnya. Bila azan magrib sudah mengalun dari surau, permainan itu pun ter­nyata telah berhenti. Esok siang mereka mungkin akan bermain kembali.

Latar Belakang Sosial Budayanya.

Kegemaran memelihara burung merpati adalah kelumrahan di banyak lingkungan desa maupun kampung-kampung dikota. Juga di- kalangan masyarakat Madura yang tinggal di wilayah Bandawasa ini. Burung yang jinak tetapi sukar ditangkap itu memang merupakan sat­wa yang sangat murah pemeliharaannya. Terutama karena sifat bi­natang ini yang sangat setia akan rumahnya.

Orang membuatkan rumah-rumah burung dari kayu-kayu papan dalam bentuk kotak-kotak kecil lalu diletakkan tinggi-tinggi menjulang angkasa dengan tiang-tiang bambu atau batang kayu. Tiap hari si empunya burung harus memberikan makanan burung-burung itu di atas tanah, di atas atap atau naik memanjat tiang rumah-rumah­an itu. Biji-bijian seperti jagung padi dan kacang tanah sangat dige­mari oleh burung-burung merpati.

Mudah sekali mereka berkembang biak, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, jumlah mereka sudah berlipat ganda. Itulah sebab­nya mengapa mereka sangat menggemari kebiasaan memelihara bu­rung itu. Dan permainan Totta’an merupakan salah satu kegiatan yang menarik dari kegemaran memelihara merpati.

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2013/03/14/t-ottaan-dara-kebupaten-bandawasa/
Comments
Loading...