Tiga Angka Jawa Sarat Filosofi

0 51

Tiga Angka Jawa Sarat Filosofi

Seperti dalam hitungan pada umumnya, dalam budaya Jawa juga terdapat urutan bilangan angka. Namun ada beberapa bilangan dalam hitungan Jawa yang berbeda dengan lainnya. Dipercaya angka tersebut memiliki filosofi tersendiri bagi manusia.

Otak-atik urutan angka Jawa yang memiliki keunikan

Angka 60

Orang Jawa tak akan menyebut angka 60 dengan Nempuluh, namun ‘Sewidak’ karena penyebutan ini berarti ‘Sejatine Wis Wayahe Tindak’. Dalam bahasa Bahasa Indonesia kata tersebut berarti ‘Sesungguhnya sudah saatnya untuk pergi’.

Makna yang tersimpan di dalamnya yakni saat usia kepala 60, seseorang sudah harus mempersiapkan diri untuk mencari bekal kehidupan. Kebiasaan buruk semasa hidup harus ditinggalkan dan saatnya mencari jalan terang menuju kepada-Nya.

Angka 50

Bilangan puluhan dalam Bahasa Jawa menggunakan penyebutan ‘Puluh’, seperti sepuluh (10) rongpuluh (20), telungpuluh (30) dan seterusnya. Namun demikian penyebutan ini tak berlaku untuk bilangan 50, angka ini akan disebut dengan nama ‘Seket’ dan bukan limopuluh.

Seket dimaknakan sebagai ‘Senenge Kethunan’ atau ‘Suka mengenakan kethu alias penutup kepala’. Filosofi yang ingin disampaikan dari angka ini yakni saat umur mengijak 50 tahun seseorang akan mendekati lanjut usia dan rambut mulai botak serta memutih sehingga banyak masyarakat Jawa akan mengenakan penutup kepala.

Pada usia ini sikap mawas diri seseorang harus lebih ditingkatkan. Pola kehidupan masa muda yang telah dilalui perlahan harus diubah dengan lebih mencintai keluarga dan mempererat hubungan sesama masyarakat.

Angka 25

Dalam Bahasa Jawa, angka kepala dua disebut menggunakan ‘Likur’, semisal selikur (21), rolikur (22), telulikur (23) dan seterusnya. Namun saat jatuh pada angka 25 penyebutannya tak lantas menjadi limolikur, melainkan ‘Selawe’.

Konon penyebutan Selawe tersebut memiliki makna tersendiri. Selawe diartikan sebagai ‘Seneng-senenge Lanang lan Wedok’ atau dalam Bahasa Indonesia ‘Sedang suka-sukanya seorang pria dan perempuan’. Filosofi yang tersimpan di dalamnya yakni tentang pernikahan. Umumnya seorang pria maupun perempuan Jawa akan melangsungkan pernikanan saat berumur 25 tahun. Saat usia inilah seorang Jawa dinilai sudah matang dan siap untuk membina rumahtangga.

Source http://krjogja.com/ http://krjogja.com/web/news/read/75532/Tiga_Angka_Jawa_Sarat_Filosofi
Comments
Loading...