“Tembuni” Upacara Adat Menanam Ari-ari Bayi

0 298

Tembuni adalah upacara adat Sunda untuk memelihara placenta bayi atau ari – ari dimana placenta sang bayi harus dirawat dengan sebaik – baiknya. Tujuan dari upacara Tembuni ini merupakan agar si anak kedepannya bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang bahagia tanpa ada sebuah kemalangan apapun dalam kehidupannya kelak. Ketika mengadakan upacara adat tembuni biasanya diperlukan perlengkapan seperti upiah pinang, kapit, sembilu, sarung kain batik, tepung tawar, madu, kukuih, seliter beras.

Prosesi Upacara Tembuni

Bayi yang baru lahir pusarnya akan dipotong menggunakan sembilu yang tajam. Tembuni yang telah dipotong akan dibungkus menggunakan upiah pinang dan diberi sedikit garam kemudian dimasukkan kedalam kapit. Kapit ditutup menggunakan daun pisang yang telah diasapi. Kapit tersebut selanjutnya akan ditanam di tanah atau dihanyutkan di sungai.

Dalam masyarakat Banjar terdapat kepercayaan bahwa tembuni yang ditanam di bawah pohon besar, kelak bayi yang bersangkutan akan menjadi orang besar, jika ditanam di bawah tanaman bunga-bungaan diharapkan namanya akan harum seperti bunga tersebut. Tembuni yang dihanyutkan di sungai, diharapkan kelak anak tersebut akan menjadi seorang pelaut. Tembuni yang diikatkan pada sebatang pohon mempunyai maksud agar setelah dewasa bayi tersebut tidak akan merantau ke luar daerah melaikan akan tetap berada di kampung halamannya.

Penanaman tembuni bergantung dari harapan orangtua terhadap anaknya di kemudian hari. Tidak ada aturan yang mengharuskan tembuni ditanamkan atau dibuang di suatu tempat seperti halnya di daerah Jawa. Bahkan, sebagian ada sebagian warga yang menyisakan sedikit tembuni dan menyimpannya dalam suatu wadah yang sama, hal ini dimaksudkan agar kelak setelah dewasa anak-anaknya dapat hidup rukun dan damai.

Setelah tembuni selesai dipotong, bayi dibersihkan dengan beberapa lapis kain sarung atau kain batik. Bayi diletakkan di atas talam yang telah dilapisi kain sarung atau kain batik. Kemudian sang ayah memperdengarkan azan dan iqamat di dekat telinga sang bayi. Hal ini dimaksudkan agar suara yang pertama didengar oleh yang bayi adalah kalimat Allah sehingga anak tersebut menjadi bertakwa. Selain itu bibir bayi diolesi dengan gula, kurma, dan garam. Hal ini diharapkan sang bayi kelak ketika dewasa akan bertutur manis dan semua perkataannya diperhatikan dan diikuti oleh orang lain.

Setelah upacara tersebut selesai, acara dilanjutkan dengan acara berparas bidan yang dipimpin oleh seorang dukun beranak atau bidan. Dukun beranak tersebut membacakan doa-doa untuk sang bayi dan tubuh bayi ditaburi dengan tepung tawar. Hal ini mempunyai maksud agar sang bayi selalu didampingi oleh saudaranya (tembuni) dan terhindar dari gangguan roh-roh jahat. Upacara berparas bidan diakhiri dengan acara makan bersama, sebagai ucapan terima kasih dukun beranak diberi sesarah seperti yang telah disebutkan. Rangkaian upacara selanjutnya adalah pemberian nama sang bayi atau sering disebut dengan istilah tasmiah. Upacara ini dilaksanakan setelah bayi berumur seminggu.

Source "Tembuni" Upacara Adat Menanam Ari-ari Bayi "Tembuni" Upacara Adat Menanam Ari-ari Bayi

Leave A Reply

Your email address will not be published.